Saturday, April 10, 2010

diatas panggung

Aku punya sebuah kebiasaan sejak lama. Aku suka sekali bila tubuhku dipandangi dengan bebas. Mungkin karena aku terlalu mencintai tubuhku. Aku selalu merawat tubuhku agar tetap indah untuk dipandangi orang lain. Aku merawat kulit, rajin mandi susu, wax juga kulakukan. Dadaku sangat montok. Ukuran 36B, perutku rata, dan aku masih perawan. Aku suka bila dilihati tetapi tidak suka dijamah. Vaginaku sangat indah bila kuperhatikan, karena bulunya tidak begitu lebat, juga tidak tipis. Aku benar-benar mencintai tubuhku. Hari itu aku dapat voucher menginap di sebuah hotel di Bali. Tadinya aku ingin mengajak teman-temanku. Tetapi aku berpikir mungkin aku ingin sendiri dulu. Aku suka memakai bra yang mendorong dadaku naik. Sehingga dadaku terlihat lebih besar. Aku juga suka mengenakan rok pendek dan G string. Hari itu aku mengenakan rok yang sangat pendek hanya sepantat. Dan aku memakai kaos ketat berwarna putih dengan bra yang membuat dadaku sehingga terlihat lebih besar. Saat di toilet sebelum check in, aku sadar bahwa dadaku akan tampak lebih indah bila tidak dibungkus bra. Maka aku lepas braku hingga para tamu melihat padaku karena aku cantik, sexy dan tinggi seperti model-model porno yang mereka lihat di majalah. Hari itu sangat panas. Aku merasa sangat horny. Ketika masuk ke kamar, aku langsung membuka jendela balkon. Kulihat, di sana langsung menghadap pantai, beberapa kelompok orang sedang berdiri memandang ke hotel arahku. Lalu aku bertambah horny. Aku membuka kausku begitu saja, duduk di balkon kamarku. Mata-mata mereka memandangi dadaku yang telanjang dan mencuat itu. Aku berniat memanas-manasi mereka sambil pura-pura tidak peduli. Aku meraba dadaku dan mencubit putingnya. Aku merasakan sensasi menggelitik. Mungkin karena aku sedang ditonton, juga karena memang aku sedang horny. Aku membelai perutku dan menurunkan sedikit rokku. Mengelus-elus paha dan pangkal pahaku sementara tatapan mereka semakin nyalang. Aku pura-pura tidak melihat dan tenggelam dalam duniaku sendiri. Aku menyusupkan tanganku ke dalam rok dan mengusap-usap vaginaku yang mulai basah. Lalu aku mengeluarkan tanganku dan menghisapnya. Kemudian aku menungging di atas kursi dan menggosok- gosokan dadaku di kursi seperti kucing, lalu menggosok-gosokan vaginaku di lengan kursi. Seakan aku juga terjebak dalam permainanku sendiri, aku menyambar handuk dan menutupi dadaku. Lalu aku menurunkan rokku dengan dramatis, agar mereka bisa melihat pantatku yang indah. Aku sengaja lebih menungging lagi agar mereka bisa melihat vaginaku dari belakang. Aku merasa penontonku semakin banyak. Aku semakin berani. Kunaikkan kakiku di atas pagar balkon dan duduk di kursi dengan handuk menutupi dadaku. Lalu aku merentangkan kakiku selebar-lebarnya dan mengusap-usap klitorisku. Seluruh tubuhku menggelinjang keenakan dan aku melenguh. Semakin lama aku menggosok vaginaku semakin cepat. Sentuhan di benjolan itu membuat tubuhku menggila. Aku berusaha menahan agar aku tidak cepat-cepat orgasme. Aku menggosoknya lebih pelan dan agak turun intensitasnya. Lalu kupercepat lagi. Aku hampir menjerit saking nikmatnya. Lalu aku membuka vaginaku dengan tangan kanan dan tangan kiriku masih menggosok vaginaku dengan penuh nafsu. Aku hampir orgasme. Aku benar- benar menjerit keenakan. Kulihat mereka terbengong dengan penuh nafsu. Dan aku pun akhirnya orgasme. Aku merentangkan kakiku semakin lebar dan kumasukkan tiga jari sekaligus ke liang vaginaku. Kukeluarmasukkan di permukaannya karena aku takut menerobos keperawananku. Aku menutup mata dalam posisi jari dalam vagina. Beberapa saat kemudian, aku mengusap vaginaku lagi, kali ini dengan tangan meraba-raba dadaku sehingga handukku pun terjatuh. Aku menggosok-gosoknya sampai aku terduduk lemas saking enaknya. Lalu aku menjilat jari- jariku dengan tatapan nakal. Mereka akhirnya tersadar bahwa aku melakukannya dengan sengaja. Tetapi aku tidak peduli. Mereka bertepuk tangan. Lalu aku berjalan masuk padahal aku semakin terangsang. Aku bermasturbasi dalam kamar sekali lagi. Hari itu sangat luar biasa bagiku. Pada hari kedua, aku pergi ke kafe sendirian. Aku sedang dalam nafsu tinggi karena kemarin. Aku memakai rok mini dan bikini tipis yang menunjukkan jelas putingku. Aku tidak memakai celana dalam. Di kafe itu, lampunya cukup remang. Kemudian seorang cowok mendekatiku "Mbak, sendirian?" tanyanya. Kulihat tampangnya lumayan. Aku tersenyum dan bergeser untuknya. Ia terus melihat pada dadaku yang menjulang. Kukatakan padanya dengan blak-blakan.. "Kuizinkan kamu melakukan oral sex padaku. Tapi kita harus melakukannya di sini." kataku. "Di sini?", tanyanya sambil melihat ke sekeliling kafe remang itu. "Takut?" tantangku. Dia menggeleng. Ia melumat bibirku sementara tangannya menjelajahi buah dadaku. "Gue bener-bener beruntung! Lanjutinnya dimana?" "Nggak ada lanjutin. Aku cuma mau kamu ngoral aku." kataku. Ia berhenti sejenak. "Bagianku?" "Mau nggak?" tanyaku menuntun tangannya menyusup di balik rok dan menyentuh vaginaku yang basah. Ia menggigit putingku dari luar bikini. Aku menggelinjang dan mulai bersandar santai pada sofa. Ia meremas-remas dadaku sementara tanganku bermasturbasi sendiri. Aku menjerit kecil sehingga mata- mata nakal mulai melihat. Aku bertambah basah. Dia melepaskan bikiniku dan melumat dadaku sementara aku memangkunya. Aku merasakan penisnya menegang. Ia melumatku semakin dahsyat dan aku menjerit lagi. Ia lalu menyusupkan tangannya ke dalam celana dalamku dan menggosok naik turun vaginaku. Aku terkikik antara geli dan nikmat. Ia berjongkok dan kuturunkan rokku ketika aku masih berdiri dengan dada telanjang. Pandangan mesum mengarah padaku tetapi aku tidak peduli. Mukanya telah menghadap tepat pada vaginaku yang kubuka lebar. Saat lidahnya menjilat, aku merasakan sensasi luar biasa. Tubuhku menggelinjang nikmat. Ia menjilat sambil jarinya terus menggosok vaginaku. Aku menjerit-jerit. Lalu jarinya dimasukkan ke dalam vaginaku. Sakit rasanya. Aku takut kehilangan keperawananku. "Aku masih perawan." ujarku. Ia tertawa. Sebagai balasannya, ia menggigit kecil klitorisku hingga aku menjerit. "Tenang aja" jawabnya. Lalu ia memasukkan jarinya pelan-pelan. Rasanya aneh. Lalu ia memutar-mutar jari-jarinya di dalam vaginaku. Aku mulai merasakan nikmatnya. Aku mengangkat pantatku dan meminta lebih. Ia mulai mempercepat gerakan jarinya sambil juga menjilat klitorisku. Sesekali digigitnya. Aku tidak tahu lagi aku dimana. Aku hanya merasa nikmat. Mereka juga memandangiku. Aku begitu bahagia. Aku orgasme. Aku benar-benar lemas. Tiga kali aku dibuatnya orgasme tanpa ia perlu melepas celana. Kemudian ia memakaikan rok dan bikiniku. Ia melumat bibirku saat kami selesai. Ia berkata dengan nada lembut dan nafas berderu.. "Aku mau lebih. Aku mau merawanin kamu." katanya. Aku tersenyum "Nggak bisa." kataku. "Kenapa?" tanyanya. "Buat aku jatuh cinta." kataku. Ia membuktikannya. Ia mengabulkan apa mauku. Kami berulang kali bercinta di hadapan umum. Semakin hari semakin gila. Aku tidak ingin pulang dibuatnya. Suatu hari kami bercinta di pantai. Di lain hari kami bercinta di laut. Kami berkali-kali memotret diri sendiri dan merekamnya untuk kami tonton sendiri ataupun untuk disebarkan. Saat menontonnya sendiri ataupun menyaksikan orang lain yang menonton, kami menjadi horny dan bercinta di mana saja selama belum diusir. Tetapi akhirnya aku meninggalkannya saat pulang ke kotaku. Aku masih lebih suka mempertontonkan diri sendiri. Kali ini aku berani menggunakan vibrator. ***** Akhirnya aku bisa benar-benar jatuh cinta pada seseorang. Ia adalah kakak temanku. Hari itu aku dan teman perempuanku sedang menonton film porno di rumahnya. Kami sama-sama suka bermasturbasi. Saat itu kami sedang bugil, lalu aku sadar bahwa kakaknya ada di kamar sebelah. Lalu muncul ide gila ini. Kami akan melakukan adegan sex dengan pintu terbuka. Saat itu orang tua temanku sedang tidak ada. Aku buru-buru melepas pakaianku, tetapi masih memakai G String. Lalu aku duduk di kursi kulit dan menghadap pintu. TV kami matikan. Temanku yang ternyata biseks mulai menjelajahi dadaku. Rasanya aneh. Antara sesama wanita rasanya begitu lembut walau aku tidak begitu horny dengannya. Lalu jarinya menjelajah ke vaginaku. Lalu kakaknya keluar hingga ia terpaku mendengar desahanku. Saat itu temanku sedang memasukkan vibrator dalam vaginaku. Aku menggelinjang keenakan sambil menggosok- gosok klitorisku sendiri. Temanku tertawa nakal. Lalu kakaknya masuk dalam kamarnya dan membentak.. "Ngapain lo berdua?" Kami pura-pura terkejut. Ia benar-benar marah pada adiknya. Tetapi ia tidak marah padaku. Jadi kutunjukkan saja lebih demonstratif untuknya. Aku mencabut vibrator dan berjalan ke arahnya dengan telanjang bulat. Ia terpaku melihatku dengan agak salah tingkah. Aku menciumnya. Ia tidak membalas. Tetapi aku tidak menyerah! Aku duduk di hadapannya dan menaikkan kakiku satu-satu. Kurentangkan selebar-lebarnya. Ia terbelalak melihat vaginaku. Aku bangga akan tubuhku. Aku bermasturbasi di hadapannya. Aku sangat menyukainya. Ia membuatku lebih horny lagi. Ketika aku hampir memasukkan vibrator, ia mendekatiku. Melumat bibirku dan turun sampai ke vaginaku. Aku membuka pakaiannya. Kami sama-sama berdiri. Tadinya aku hampir orgasme tetapi tidak jadi. "Aku suka kamu" kataku. Ia tidak bereaksi. Ia menciumi tengkukku dan tangannya menggerayangi tubuhku. Aku menidurinya dan memegang penisnya yang mengeras. Temanku keluar sambil tersenyum padaku. Aku mengocok penisnya dan menjilatinya. Sesekali menggigit kepalanya. Ia mengerang. Lalu aku menggosok-gosok penisnya pada vaginaku. Penisnya cukup besar hingga aku agak takut dan terus melumatnya. Semakin lama aku semakin menikmatinya. Rasanya seru. Aku terus menjilat dan berusaha memasukkan penisnya dalam mulutku. Aku menggigit- gigitnya dan sesekali memainkan zakarnya. Ia mengerang keenakan sampai akhirnya ia orgasme. Aku menelan semua spermanya. Aku tertawa senang. Lalu ia balik menerkamku. Vaginaku habis dijilat dan digigitinya. Ia bagaikan singa gila. Dan dia adalah pria paling hebat dalam melakukan oral sex yang kutahu selama ini. Aku orgasme sampai empat kali! Dia lalu memasukkan penisnya dalam vaginaku. Aku dan dia sama-sama mendesah-desah keenakan. Aku merasakan denyutan di vaginaku semakin kuat hingga aku menjerit keenakan. Sementara dia juga sesekali menjerit. Kami benar- benar gila. Sesekali ketika aku berkata akan orgasme, ia berhenti dan mengganti posisi. Aku benar-benar lemas dia buat. Ia hebat sekali dalam bercinta. Ketika akhirnya aku dan dia sama-sama orgasme, itu adalah orgasme yang paling yang pernah kurasakan. Aku takkan pernah melupakannya. Nikmatnya masih terasa setelah setengah hari berlalu. Ketika mengingatnya, aku jadi sering bermasturbasi sendiri. Bahkan terkadang di hadapan umum sekalipun bila aku sedang horny sekali. E N D

ruang kesehatan

Nama ku ryo. Aku mzi kuliah semester 6 di PTN terkenal di kota ku. Sedikit ku kenalkan, tinggi badan 173 cm dan berat 60 kg. Badan ku berotot, perut ku pun kencang dan dadaku bidang. Ku ceritakan pengalamanku ini untuk berbagi pengalaman dengan Anda semua yang pecinta SEX. Karena aku juga selalu haus dengan SEX. *........___........* tanggal 24 April 2009, hari itu aku sedang banyak tugas di kampus. Karena kampus sedang mengadakan pesta besar- besaran. Karena tidak terlalu tertarik dengan acara pada saat itu, aku puTuskan untUk tiduran di ruang kesehatan yang ada di kampus. Ruangan itu aku piLih karena jauh dari aktivitas mahasiswa dan ada tempat tidur yg bsa aku tdurin. Karena aku adalah pengurus organisasi msalah kesehatan di kampus. Sebelum tidur, memijat kontol merupakan kebiasaan aku. Kupijat kontol ku, lama kelamaan kontol ku ereksi dengan kencang dan keras. Ukuran nya yg selalu aku banggakan yaitu 25 cm. Mungkin karena aku INDO. Ayahku Arab-ibuku batak. Kulihat dari celah jendela ada AYU yg sedang duduk sendirian. Sedikit ku ceritakan, Aku pernah ngintip ayU yg lagi asik masturbasi di dalam kelas. saAt smua mahasiswa sudah pulang. Singkat cerita, sengaja aku buka gorden dan "ngocok" di ruangan kesehatan itu supaya di lihat oleh ayu. Aku tak malu kalau harus ngocok di dpan ayu. Toh, aku jg pernah ngintipin ayu yg lagi anu. Jadi jgn muNa dech, pkirku. Ooch, aah, ooh, ooh.. Desahku yg agak kencang karena Kontol ku semakin menggila. Sengaja aku bersuara supaya ayu melihat sedang apa aku. Ayu pun memperhatikan aku. Kubuka jendela karena tak ada siapa siapa. Yu, mzuk yuk. Kita masturbasi bareng. Aku pernah lho liad kmu lg ANU di dlam kelas, aku cuma mO ngajak mastUrbasi aja kok, oceh ku ke ayu sambil tetap megang kontol di tanganku. Ayu pun terdiam dan tertarik dgn ajakan ku. Ku buka pintu dan ku liHat pndangan ayu tak mau pergi melihat bArang kebanggaanku. PintU segera ku kunci. Tubuh ayu pun ku peluk ku buka paksa bjunya dan ku isap dadanya yg mOntok. Ku jilat telinga dan leher nya supaya ia bangkit gairah nya. Ayu pun menolak. "prjanjian tdi kan cuma masturbasi ajh. Bkan kyak gini" ucAp nya. "uda lah yu, kucing mana sich yg di kasih ikan gk mau. Mending kamu ikutin aja permainan ini" jawabku. Ayu pun diam dan tunduk pada ku. Sudah ku duga pasti brhasil ajakan ku ini. KuLanjuT kan untuk memilin payudara nya dengan kedua tanganku sampai ayu mendesah. Kaki ku segera melorotin celana karet yg ia kenakan sekalian dgn celana dalam nya. Kontolku yg ngaceng berat ku gosok2 di luar vagina ny sebelum aku tusuk ke lubangnya. Nafas ayu semakin berat dgn perlakuanku skarang. Sekitar 7 menit dgn posisi yg sama di atas kursi. Lalu ku buka lebar selangkangan ayu dan ku jilatin dgn permainan lidahku sambil ku tusuk jg dgn lidah. Vagina ayu mulai terasa banjir dan tubuhnya pun menggelinjang saat kutusuk vaginanya dengan tangan. Melihat ayu yg seksi dengan klimaksnya. Langsung ku mainkan kontolku di depan vaginanya. Dan "BLESS" ku tUsukan kepala kontol di lubang nikmat itu. Vagina ayu terasa sempit sekali, tapi tetap kupaksakan untuk melanjutkan permainan. "ngentotin kamu kayaknya nikmat bgt yU" ucap ku. Ayu pun hanya tertawa kecil. Setelah dgn perjuangan masukin kontol di vagina nya. Akhirnya jebol juga. Kurasakan ada yg sobek di dalam nya dan darah segar mengalir di kontol ku ketika ada di dalam vagina ayu. Kulihat Ayu yg kesakitan dan ku perlahan permainan sampai ayu mulai merasakan enaknya "ngentot" bareng aku. "Ahh,, ahh,, ohw,, ohw,," suara yg mulai keluar dari ayu. Set dah, vagina ayu terasa sempit bgt, kontolku terasa disedot-sedot oleh gua nikmat ayu. Kugendong ayu dari kursi tanpa melepaskan tancapan kontol dalam "memek" ayu. Dan segera ku naik turunkan ayu dalam posisi berhadapan yg msih dalam gendonganku. "prot, ceproth, ceprot, ceprot.." begitulah suara memek ayu menambah gairah laki-lakiku bertambah naik. "Ah ah auwh auwhhh yO, kamu jago amat mainnya" puji ayu kpda aku. Vagina ayu terasa semakin "menggigit" kontol perkasaku dan terasa ada yang cairan yg mengalir saat badan ayu mengejang hebat. Aku tambah nafsu melihat tingkahnya barusan. Aku pun berpindah tempat masuk ke ruang istirahat yg ada tempat tidurnya untuk mengejar klimaksnya. "Yo, jangan stop permainan ini, ouwh kontolmu hebat banget Yo. Bikin aku merem melek dibuatnya" pinta ayu seperti haus Sex. Setelah dikasur, kupinta ayu yg ambil kendali permainan. Ayu langsung mengoral kontolku. Katanya sich gemes ama rudal perkasaku. Mata ku pejamkan untuk menikmati hangatnya mulut "istri" ku. Sedang enak mendesah, ayu memberikan memeknya kemuka aku. Posisi kami saat ini adalah 69. Kuisap memek beserta mani ayu yg terasa asin. Kutusuk memeknya dengan lidahku. Kujilat, kusedot, dan kusapu vaginanya dengan permainan lidah. Membuat ayu sangat nyaman dengan posisi 69 ini. Kepala kontolku diisap ayu penuh nikmat dan batang kontolnya tetap dikocok olehnya. Ayupun berganti posisi keatasku. Dan menancapkan kontolku kememeknya. Ayu terkesan jago diposisi ini. Permainan membuat kontol aku semakin liar. Kuremas-remas payudara besar ayu. Dan ku pilin ujungnya. Ternyata membuat ayu mempercepat gerakan nya. "ah ah ah, yO aku mo nyampe lagi kontolmu hebat banget. Uda gede ukurannya tahan lama pula." pujian ayu keluar scara terpotong-potong. Aku yang mulai ereksi banget. Mencoba memakai doggy-style untuk menyakan titik klimaks breng ayu. "ahw tunggu yu, keluar nya bareng aja." pintaku. Kurasakan kepala kontolku terasa ada yg akan menyeruak keluar. Dan ternyata, "croot crot croot" spermaku keluar didalam vagina ayu. Ah, buset dah yu. Dan kumasukan kontolku ke mulut ayu. "Aem aem ahh aem." mulut ayu bersuara. Tak ada mani yg bersisa lagi. Dan akupun tiduran disamping ayu msih dalam keadaan telanjang. ML pun masih sering kami lakukan sampai saat ini. Yang mau tanya-tanya seputar "permainanku". Contact aku aja di emailku. Buat cewek haus tancapan kontol boleh juga pake kontol aku.

kenkmatan di bis kota

Nama saya Florence Kim, saya adalah warga Indonesia keturunan Korea yang sekarang sedang berada di Italy untuk tujuan bisnis dan saya sering sekali membaca hingga saya menjadi sangat basah. Saya mempunyai pacar bernama Erick, seorang warga Roma, tapi sekarang saya tidak menceritakan pengalaman saya bersama Erick. Pagi itu, kami makan pagi berdua sambil ngobrol-ngobrol ringan. Erick ada meeting dengan factory jam 11 pagi, jadi saya mungkin menghabiskan waktu dengan jalan-jalan sendiri, tapi tidak masalah soalnya saya sudah terbiasa kemana-mana sendiri. So, setelah cium perpisahan dengan Erick, saya mulai berbenah diri. Pagi itu udara summer kebetulan sangat indah buat jalan-jalan. Saya memakai skirt-dress katun pendek, sekitar 10 cm di atas lutut, motif floral, dengan canvas-shoes di padukan dengan straw hat yang saya beli di Yogyakarta. Sip deh, komentar saya setelah mengecek sekali lagi di cermin. Baju ini bagus juga, leher bajunya yang berbentuk kotak, low cut memperlihatkan dada saya yang putih dan berukuran 36B. Waktu saya turun dari kamar, melewati lobby yang crowded, saya sempat merasa tatapan mata yang tertuju pada saya, apa karena saya manis atau jarang kali ngeliat cewek Asia, tapi lumayanlah buat tambah PD. Saya berjalan-jalan menyusuri jalan kecil di samping hotel. Tidak lama kemudian saya sudah berada di tengah toko-toko dan kafe-kafe kecil. Mungkin daerah pasar kali, soalnya saya baru pertama kali berada di Roma. Entah bagaimana melukiskan perasaan kalau kita berada di tengah-tengah kota yang ramai tapi semuanya asing buat kita. Something scary tapi agak menggoda karena banyak hal yang baru, seperti tampang cowok-cowok Italy yang lagi cofee break dengan baju kantor yang rapi. Kulit mereka yang kecoklatan, dagu yang keras dan mantap plus itu lho.. sisa cukuran yang masih kebiru- biruan bikin gemes pengen ngelus dech, juga perasaan mau nyobain bagaimana rasanya bercinta dengan mereka. So, saya berjalan santai dengan pikiran yang bercampur aduk. Akhirnya saya berhenti di depan bus station, kemudian setelah saya pelajari rute di map saya, saya mau pergi ke Via Condotti. yah, buat window shopping. Waktu saya naik ke bus tersebut, bus-nya lumayan padat, tapi tidak seperti di Jakarta sampai bergelantungan di pintu. Paling lorong bus itu penuh orang berdiri sambil berpegangan di pipa besi. Saya juga tidak menemukan tempat duduk jadi saya pilih tempat yang kelihatan agak kosong sambil berpegangan di pipa juga. Kemudian bus-nya melaju. Saat menit-menit pertama, saya melihat-lihat sekeliling sambil bus itu melaju. Saya merasakan angin bertiup menerpa wajah dan bermain dengan rambut saya yang lurus sebahu. Waktu bus itu berbelok, saya merasa ada sentuhan ringan di paha saya.. kaget, saya melihat sekeliling tapi tidak ada yang ganjil. Saya melihat orang-orang sedang bercakap-cakap dan tidak ada yang mencurigakan. Saya mulai merasa ganjil karena keasingan saya di tengah-tengah bahasa mereka. Karena tidak menemukan sesuatu yang aneh, saya pikir itu mungkin ketidaksengajaan, lalu saya kembali memandang lurus ke depan. Tapi tidak lama kemudian, tangan itu kembali lagi dan kali ini mengelus pantat saya dengan pelan. Saya menoleh mencari siapa tapi lagi-lagi tidak ada yang saya dapati. Lalu bus berhenti, masuk lagi segerombolan orang sehingga saya makin terhimpit. Saya pikir kalau sudah begini tidak mungkin lagi orang itu berani pegang- pegang, tapi dugaan saya salah karena tidak lama kemudian saya mulai merasakan tangannya di belakang lutut saya, bergerak naik ke atas paha saya. Terus terang saya terangsang sekali karena bagian tengah agak ke belakang dari lutut ke paha itu salah satu daerah sensitif saya. Antara perasaan gundah, mungkin sungkan siapa tahu ada yang memperhatikan, tapi juga mulai terangsang jadi saya diamkan saja. Karena tidak ada yang bisa saya lakukan di tengah kepadatan bus dan pikir saya, toh dia cuma bisa pegang- pegang, lagi pula saya melihat di sekitar saya itu banyak cowok- cowok berpakaian rapi yang mungkin mau makan siang. So, insting iseng dan cuek plus pengen tahu saya lebih kuat daripada perasaan malu. Saya ingin tahu sejauh mana tangan orang tersebut bereaksi dan juga ngapain malu, nggak ada yang kenal saya ini, lagian cowok-cowok yang dekat saya cakep-cakep. Mungkin karena saya diam saja, tangan itu mulai berani bergerak perlahan terus ke bagian atas paha tengah saya. Saya semakin grogi. Sambil menahan rasa nikmat yang mulai menjalar dari paha, saya gigit bibir saya, karena takut saya nanti bersuara (karena kebiasaan saya suka berisik). Saya mencoba untuk menyatukan kaki saya supaya tangannya tidak bisa menggerayang ke atas lagi tapi tidak bisa, karena bus itu bergoyang-goyang, yang membuat badan saya jadi limbung sehingga kaki saya harus agak direnggangkan supaya bisa berdiri dengan stabil. Diantara perasaan nikmat plus tegang, tangan itu semakin berani kali ini dia maju ke atas, menuju ke celana dalam saya. Tangannya mulai membuat lingkaran-lingkaran kecil tepat di daerah sekitar lekukan pantat saya sebelah bawah dan di atas vagina saya yang tertutup celana dalam. Wow, makin terangsang plus grogi deh. Kali ini saya agak melenguh sedikit tapi tidak mengundang perhatian penumpang sebelah saya, mungkin mereka pikir saya kecapekan berdiri kali. Tapi si pemilik tangan ini makin berani setelah mendengar desahan saya. Dia mulai menyisipkan jemarinya ke dalam celana dalam saya yang mini itu. Tidak sulit karena mini, dia bisa merasakan daerah itu mulai basah karena ulahnya. Sungguh sulit untuk melukiskan perasaan saya saat itu.. mungkin pembaca bisa coba untuk membayangkan posisi saya di daerah yang asing dan baru. Karena dapat angin merasakan kebasahan saya, dia mulai berani membuka bibir kemaluan saya dan memainkan jemarinya di antara kedua bibir itu sambil sesekali melingkar-lingkar di clitoris saya. Aduh, pembaca sungguh nikmat rasanya. Saking tidak kuat menahannya saya rapatkan lagi paha saya. Lalu dengan tiba-tiba saya mencoba untuk menjebak tangannya di antara paha saya, tapi refleksnya sangat bagus sehingga dia sempat lolos waktu itu. Lumayanlah pikir saya untuk catch my breath again. Jantung saya berdegup sangat kencang sampai-sampai saya takut kedengaran sama yang lain. Kaki saya yang mulai lemas sehingga saya sedikit bersandar di kursi yang terdekat. Tapi tidak lama tangan itu kembali lagi kali ini saya merasa sesuatu yang dingin di celah paha saya yang nantinya saya sadar mungkin itu gunting or what and how? Karena berikutnya celana dalam saya sudah robek terbelah dua. Tangannya semakin berani beroperasi di antara kedua bibir vagina saya melingkar-lingkar dan mulai nenekan perlahan. Pelan namun mesra. Kemudian saya mulai merasa jarinya membuka kedua bibir kemaluan saya dan mulai memasukkan dua buah jarinya ke dalam vagina saya keluar masuk sambil digesekkan ke daerah clitoris saya. Saya terpana karena tidak menyangka dia seberani itu tapi tak kuasa untuk bertindak. Kaki saya mulai lemas lagi mungkin karena kenikmatan yang dihasilkan oleh gerakan jemarinya. Saya terpaku oleh rasa itu, diam tak bergerak hanya bisa menikmati sambil kuat-kuat menggigit bibir menahan nikmat itu. Perasaan yang tak tertahankan itu membuat saya diam-diam berimajinasi bagaimana rasanya kalau penis yang ada di dalam vagina saya. Dalam diam saya sangat menikmati gerakan tangannya. Saya sudah sangat basah sekarang. Saya kuatir nanti terdengar bunyi seperti clep.. clep.. Saya berdiri setengah bersandar di situ antara perasaan grogi takut ketahuan tapi saya berdiri diam di situ tidak bergerak sambil menikmati permainan tangannya. Tangan itu tidak berhenti juga mungkin dia dapat merasakan gerakan dinding vagina saya yang makin intense. Saya merasa saya hampir orgasme. Akhirnya tiba-tiba seperti gelombang saya merasakan suatu perasaan yang sangat hebat, mungkin saya orgasme seperti dalam sedetik itu saya berada di suatu tempat yang terang sekali.. sendirian. Untung saya masih bisa menahan tidak menjerit walau susah sekali dan bibir saya terasa sakit karena saya gigit keras sekali. Rasanya berdarah sedikit karena ada rasa besi dalam mulut saya. Setelah itu, saya kembali bisa merasakan kehadiran orang- orang di sekitar dan membuka mata memandang jalan. Sambil menarik nafas panjang saya berdiri tegak. Saya rapatkan kaki saya, dan seperti semula, tangan itu sudah tidak ada. Saya lihat sekeliling, ada beberapa mata yang memandang saya dengan shock tetapi saya cuek saja. Saya berbalik memandang jalan kembali dan melihat ke jam tangan saya. Well, semua itu terjadi hanya dalam 10 menit. Di depan saya melihat ada bus station. Saya cepat melewati orang-orang menuju pintu lalu saya turun. Setelah saya memijakkan kaki saya di tanah, saya pandangi lagi bus yang mulai bergerak maju tapi ada suatu gerakan yang menarik perhatian saya. Ternyata ada seorang cowok berkemeja biru, berambut coklat tua dan berumur sekitar 30 tahun mengangkat tangan dan memberi salute kecil pada saya seperti gaya militer di dekat kening itu lho. Dia tersenyum (jujur saja, dia memang ganteng. Kalau dia mendekati saya di sebuah café mungkin saya juga tertarik oleh tampang Italy-nya yang rough but nice itu) Tak sadar, saya pun tersenyum balik. Begitulah pembaca. Saya mulai melihat sekeliling, ternyata saya sudah satu blok di dekat Via Condotti. Saya mulai berjalan sambil masih tersenyum simpul oleh pengalaman tadi. Pengalaman itu adalah salah satu starter yang membuat saya mulai suka melakukan hal-hal tersebut di tempat umum bahkan di Jakarta mungkin karena adrenalin yang berpacu sangat cepat kalau kita tahu kita di tempat umum membuat saya selalu ketagihan. Wow, Masih begitu perasaan saya kalau mengingat kejadian itu, seperti saya menulis sekarang ini, vagina saya sudah basah. Tinggal menunggu nanti sore selesai jam kantor. Saya akan bertemu Erick, may be Erick can help me now. TAMAT

istri pamanku

Ma, minta susu..! teriak seorang bocah kepada mamanya. "Iya bentar!" teriak mamanya dari dalam kamar. Bocah kecil tersebut adalah anak dari mama yang disebut tadi. Kita sebut saja namanya Ras. Ras merupakan istri dari abang mama saya, mengertikan? Jadi saya seharusnya memanggilnya bibi, tapi karena suatu alasan, dia kami panggil Mbak dan dia tidak keberatan kok dipanggil begitu. Suaminya saat itu bekerja di luar negeri dan dia ditinggal di rumah mertuanya yaitu nenek saya. Suaminya telah lama pergi dan hanya pulang sekali dalam setahun. Pada saat itu umur saya baru akan menginjak 17 tahun, dan sekolah di salah satu perguruan swasta di kota saya dan pada saat itu sekolah kami sedang libur, jadi otomatis di rumah sepi karena semua penghuni rumah sudah keluar entah ke mana. Di rumah kami tinggal bersama nenek, dan 5 orang sepupu saya yang tentu saja lebih kecil dari saya semuanya. Jam baru menunjukkan pukul 9.00 pagi. Nenek saya sedang pergi ke pasar dan biasanya bila beliau ke pasar tidak pernah sebentar. Kelima sepupu saya sudah keluar dari tadi pagi jadi yang tinggal di rumah cuma saya dan Mbak Ras serta anaknya yang baru berumur 5 tahun. Saya dan Mbak Ras bisa dibilang sangat dekat, karena kami sering berbicara dan bercanda bersama. Jadi di antara kami berdua sangat terbuka. Namun pada saat itu saya tidak berani berbuat macam-macam kepadanya, tapi kalau berpikir macam-macam sih pasti ada, he he he. "Ma, buatkan susu dong!" celoteh bocah tadi menagih janjinya tadi. "Iya, nih tiap hari minum susu aja. Susu mahal tau!" mamanya menyodorkan sebotol susu kepada anaknya dan diterima anaknya dengan gembira tanda bahwa dia tidak mau mengerti tentang kemahalan susu. Memang anaknya setiap bangun tidur dan sebelum tidur selalu meminta susu. Kebetulan lagi pada saat itu saya baru selesai sarapan pagi dan timbul keisengan saya untuk bercanda kepada Mbak Ras. "Saya juga minta susu dong Mbak!" kata saya sambil menyodorkan gelas kepadanya. "Eh.. loe itu udah gede, itu kan susu buat anak-anak", balas Mbak Ras. "Lho, jadi kalau udah gede gak boleh minum susu?" tanya saya sambil pasang muka tak berdosa. "Bukannya nggak boleh, tapi itukan susu buat anak-anak", tegasnya sekali lagi. "Jadi yang buat orang dewasa mana?" tantang saya kepadanya. "Ini!" sambil menunjuk kepada buah dadanya yang sepertinya cukup besar dan padat itu. Terang saja saya terkejut, dan saya pun malu karena dia tidak biasanya bercanda sampai begitu. Sebenarnya saya tahu kalau dia itu sebenarnya sudah sangat haus dengan seks. Bayangkan saja selama hampir setahun tidak berhubungan dengan suaminya, siapa yang tahan. Dan argumen saya ini juga telah saya buktikan. Kebetulan kamar saya yang berada di lantai 2 tepat di atas kamar mandi, dan lantai 2 hanya berlantaikan papan jadi iseng-iseng saya melubangi papan itu biar bisa mengintip orang mandi. Saya sering mengintip Mbak Ras mandi dari lubang itu dan saya lihat bahwa Mbak Ras sangat sering merangsang dirinya sendiri di kamar mandi, misalnya dengan memijat-mijat dadanya sendiri dan mengelus-elus kemaluannya sendiri. Jadi dari itu saya mengambil kesimpulan kalau dia sering terangsang. "Kok bengong? mau minum susu nggak?" ucapnya membuyarkan lamunanku. "Apa masih ada? anak Mbak kan udah lima tahun?" jawab saya menetralisir kekagetan saya. "Gak tau dech.. kamu coba aja, hehehe.. udah dech.." katanya sambil melewati saya menuju kamar mandi kemudian berbisik sekilas kepada saya. "Pintu kamar mandi nggak Mbak kunci." Terang saja saya senang sekali, soalnya saya sering baca buku porno dan pernah berkhayal kalau saya melakukan hubungan badan dengan Mbak Ras dan sepertinya sekarang bisa terwujud. Saya membuka pintu kamar mandi perlahan dan saya lihat Mbak Ras sedang membelakangi saya menggantung pakaian yang akan dipakainya. Dengan perlahan juga saya tutup pintu kamar mandi dan menguncinya tanpa suara. Saya melihat Mbak Ras mulai membuka baju tidurnya tanpa membalikkan tubuhnya. Sepertinya dia tidak sadar kalau saya sudah berada di dalam. Setelah baju dilepas kemudian tangan saya menuju ke pengait BH-nya bermaksud membantu membuka BH-nya. Dia kaget karena tiba-tiba ada orang di belakangnya namun setelah mengetahui bahwa yang di belakangnya adalah saya dia tersenyum dan membiarkan saya melanjutkan kegiatan saya. Setelah BH-nya terbuka saya kemudian melemparkannya ke tong tempat baju kotor. "Mbak, susunya boleh saya minum sekarang", tagih saya kepadanya. Dia hanya mengangguk dan kemudian membalikkan badannya. Terlihatlah olehku dua buah tonjolan di dalamnya yang selama ini belum pernah saya lihat secara langsung. Sebelumnya saya hanya mengintip. Kemudian dia menyodorkan dadanya kepada saya dan dengan cepat saya sambar dengan mulut saya. Dia hanya mendesis tidak jelas. Lama saya menghisap dan menjilat kedua dadanya membuat dia terus menggelinjang dan menjambak rambut saya. Dadanya kanan kiri secara bergantian menjadi korban keganasan lidah saya. Mbak Ras kemudian secara lembut membuka kaos saya dan tanpa saya sadari kaos saya sudah terlepas. Mungkin karena keasyikan meminum susu alam. Sementara tangan saya yang kiri mulai meraba-raba perutnya sedangkan yang kanan mengusap-usap dadanya yang sebelah kanan. Sementara mulut saya dengan menjulurkan lidah keluar mempermainkan puting susu yang sebelah kiri yang membuat Mbak Ras semakin ngos-ngosan. Tangan saya sebelah kiri mulai nakal dengan menyusupkan jari-jarinya ke celana tidurnya yang belum dibuka. Tangan Mbak pun tidak mau kalah, dia pun mulai mencari-cari sesuatu di selangkangan saya dan setelah menemukannya dia pijat dengan lembut. Kemaluan saya yang merasakan ada rangsangan dari luar celana semakin meronta minta keluar. Mbak Ras yang sudah berpengalaman itu kemudian membuka reitsleting celana saya dan kemudian melorotkannya ke bawah dengan menggunakan kakinya karena dia tidak bisa membungkuk sebab dadanya sekarang masih berada dalam kekuasaan saya. Setelah CD saya dibuka, tangannya yang sekarang lebih nakal mulai mengocok perlahan batang kejantanan saya dan itu jelas saja membuat saya terbang tinggi, sebab baru kali ini batang kejantanan saya yang satu ini dipegang oleh tangan seorang wanita yang lembut. Mbak Ras makin menjadi ketika jilatan saya turun ke perutnya dan bermain di sekitar pusarnya dan kemudian dengan sekali tarik celana tidur yang dari tadi menghalangi pemandangan indah saya buka dan sekarang di depan saya berdiri seorang wanita hanya dengan celana dalam krem yang jika diperhatikan lebih seksama bisa dilihat transparan, tapi siapa yang sempat melihat ketransparanannya itu kalau sudah terangsang. Jilatan saya turun agak ke bawah menuju ke kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu yang rapi namun karena sudah basah terlihat acak-acakan. Saya menjilati liang kemaluannya dari luar CD-nya. Itu sengaja saya lakukan agar bisa lebih merangsangnya. Dan ternyata benar dia tidak sabar dan segera menurunkan CD-nya sendiri. Saya hanya tersenyum memandang ketidaksabarannya itu, dan jilatan saya lanjutkan tetapi tetap belum menyentuh lubang kenikmatannya itu yang membuat dia blingsatan dengan menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan yang bertujuan agar jilatan saya berlanjut ke liang kemaluannya. Saya lihat kemaluannya sudah banjir, karena tidak pernah merasakan cairan dari wanita maka jilatan saya pun merambah ke liang kemaluannya. Asin! tapi kok enak yah kata saya dalam hati. Mbak Ras pun kembali mendesis keenakan, "Ahh.. terus Tango", ujarnya. Lidah saya pun mulai bermain cepat. Tiba-tiba tubuh Mbak Ras mengejang dan diikuti dengan desahan panjang, "Ahh.. nikmat sekati Tango. Pemanasan kamu sungguh hebat." Kemudian dia pun duduk di lantai kamar mandi dengan perlahan. Setelah puas dengan kemaluannya, saya kembali ke atas dan mencoba untuk melumat bibirnya. Bibir yang dari tadi mendesis tidak karuan itu kemudian melumat bibirku yang baru saja sampai di depannya. Lama kami saling melumat sambil tangan kanan saya memainkan puting susunya dan tangan yang satunya lagi mencari lubang kewanitaannya dan menekan-nekan klitorisnya yang jelas saja membuat lumatan bibirnya semakin menjadi. Tangannya pun tidak mau kalah, sambil berpagutan dia mencari kembali batang yang tadi sempat dilepasnya karena kenikmatan yang dia rasakan. Setelah ketemu, kemudian dia mulai menggerak-gerakkan tangannya mengocok kemaluanku yang sudah sangat tegang dan membesar sambil sesekali mengusap bagian kepalanya yang sudah mengeluarkan cairan bening kental. Kemudian secara perlahan-lahan saya mendorong kepalanya ke belakang agar dia rebah ke lantai kamar mandi. Setelah dia rebah, Mbak Ras mendorong dada saya lembut yang membuat saya terduduk dan dia kemudian bangkit kembali. Saya terkejut, saya mengira dia telah sadar dengan siapa dia sedang bermain, namun dengan seketika keterkejutan saya hilang sebab dia kemudian dengan sikap merangkak memegangi kelamin saya dan kemudian dia malah memasukkan kelamin saya ke mulutnya. Ahh.. terasa nikmat sekali sebab Mbak Ras sangat pandai memainkan kemaluan saya di dalam mulutnya. Saya bisa merasakan lidahnya bermain dengan lincahnya. Saya juga merasakan kepala kemaluan saya dipermainkan dengan lidahnya yang lincah itu. Setelah bermain lama di bawah situ, mulutnya kemudian merambah ke atas menciumi perut, kemudian dada saya dan kemudian kembali ke mulut saya, namun karena saya tahu dia baru saja melepaskan mulutnya dari kemaluan saya, saya berusaha menghindar dari lumatan bibirnya dan mencoba agar dia tidak tersinggung dengan mencium pipinya dan kemudian telinganya. Tangan saya yang menganggur kemudian saya suruh bekerja lagi dengan mengusap-usap selangkangannya dan terdengar dia berbisik kepada saya, "Masukkan ahh.. sekarang yahh, Mbak udahh kepingin.. banget.. nih.. ahh." Saya kemudian mengambil inisiatif dengan mendorong Mbak Ras agar kembali rebah dan dengan perlahan dia menuruti kemauan saya dengan rebahan di lantai kamar mandi. Saya kemudian mengambil segayung air dan menyiramkan ke tubuhnya dan kemudian satu gayung lagi untuk disiramkan ke tubuh saya sendiri. Setelah kami berdua basah, tangan kanan saya kemudian meremas-remas dadanya sedangkan tangan kiri saya memegang kejantanan saya menuju ke lubang sejuta kenikmatan. Mbak Ras pun sudah siap menerima terjangan saya dengan membuka kedua kakinya agar memudahkan saya memasukinya. Dengan perlahan tapi pasti saya mencoba untuk memasukkan kepunyaan saya yang dari tadi sudah tegak ke kemaluannya. Namun karena sudah lama dia tidak tersentuh laki-laki, membuat saya agak susah juga untuk menancapkannya. Beberapa kali saya arahkan batang saya, namun agak susah untuk berhasil, dan setelah beberapa tusukan, akhirnya kelamin saya masuk dengan sukses ke selangkangannya. Yah, cengkeraman liang kemaluannya sungguh nikmat, karena saat itu liang kemaluannya sangat sempit dan itu sudah membuat saya merem melek, dan dengan gerakan pelan saya mulai menaik-turunkan pinggul saya. Saya melihat Mbak Ras mengerang kenikmatan sampai bola matanya hilang, dan dia juga meggerak-gerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan dengan maksud agar semua ruang di liang kemaluannya terjejali dengan kemaluanku yang sudah mulai memompa. Setiap pompaan membuat dia mendesah tidak karuan. Setelah beberapa menit, dia kemudian memelukku dengan erat dan membalikkan tubuhku dan tubuhnya. Kini dia sudah berada di atasku, dan gantian dia yang menaik-turunkan pinggulnya mengejar kenikmatan yang tiada tara. Sementara itu tanganku yang sudah bebas kembali memainkan susunya dan mengusap-usap punggungnya. "Ssaayyaa.. udah ahh.. mau.. keeluar nihh.." desahnya. Mendengar desahannya yang begitu seksi saya semakin terangsang dan saya mulai merasakan ada sesuatu tenaga dalam yang ingin dikeluarkan dan semua sepertinya sudah terkumpul di kejantanan saya. "Saya juga udah mau keluar Mbak..!" desis saya mempercepat gerakan pinggul saya dari bawah. "Tahann.. sebenntaarr.." katanya. "Biaarr.. Mbak kee.. luar dulu.. ouhh.." Saya pun mengerti untuk tidak mengeluarkannya di dalam, sebab dengan alasan apapun saya tidak mau sperma yang saya keluarkan ini menjadi anak dari rahim bibi saya. Saya berusaha untuk menahan, sesaat kemudian terasa cengkeraman di kelamin saya terasa kuat dan terasa hangat, tubuh Mbak Ras kembali mengejang. Kalau saya tidak mencabut kemaluan saya dengan sedikit mendorong perut Mbak Ras, mungkin saya pun akan mengalami orgasme bersamaan dengan Mbak Ras. Untung saja saya sigap, sesaat kemudian Mbak Ras terkulai lemas di atas tubuh saya menikmati sisa-sisa kenikmatan. Paha saya terasa hangat karena pelumas yang keluar dari liang kemaluan Mbak Ras. Saya pun memeluknya, dan membalikkan tubuhnya karena saya belum terpuaskan saya pun kembali merangsang Mbak Ras dengan jilatan di sekitar selangkangannya. Setelah berkisar 3 - 4 menit Mbak Ras kembali terangsang dan menyuruh saya memasukkan lagi kepunyaan saya ke dalam kemaluannya. Tanpa ba-bi-bu lagi, langsung saya tancapkan ke dalam kemaluannya. Kali ini lebih mudah karena kemaluan kami berdua memang telah licin. Setelah memompa beberapa menit, saya kembali merasakan gelombang kenikmatan dan dengan segera saya mencabutnya dan mengocok-ngocoknya dengan tangan sendiri. Namun tidak disangka, Mbak Ras kemudian menangkap kemaluan saya dan menggantikan tangan saya dengan tangannya dan kemudian memasukkan kemaluan saya ke dalam mulutnya. Ahh.. terasa sungguh nikmat, apalagi permainan lidahnya membuat saya tidak bisa bertahan lama dan akhirnya semua saya keluarkan di dalam kuluman mulutnya. Tapi saya tidak melihat dia melepaskannya, dia seakan tidak mau melepaskan kemaluanku yang sedang muntah dan dia menghisap habis semua muntahannya tanpa sisa. Setelah saya merasakan pelumas dari dalam tubuh saya habis, batang kemaluan saya pun perlahan-lahan kembali mengecil. Melihat hal itu, Mbak Ras kemudian melepaskan batang kemaluan saya, dan tersenyum kepada saya. Kemudian dia berbisik, "Tango, terima kasih yah, Mbak udah lama nggak menikmatinya dari pamanmu, entar lain kali kalau ada kesempatan bisa kan kamu puasin Mbak lagi?" Dengan masih terduduk di lantai saya mengangguk sambil tersenyum nakal kepada Mbak Ras. Kemudian kami pun mandi sama-sama, saling membersihkan diri dan sesekali tangan saya bergerak nakal menyentuh payudaranya yang tadi pentilnya sempat mencuat. Setelah kejadian pertama itu, kami pun sering melakukannya di hari Minggu atau hari-hari libur dimana keadaan rumah sedang sepi. Kadang di kamar mandi, kadang di kamarnya. Namun setelah beberapa bulan kami melakukanya, dia mendengar bahwa suaminya yang di luar negeri sudah menikah lagi dan dia pun memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya di Jakarta. Dan setelah kepergiannya atau lebih tepatnya kepulangannya ke Jakarta saya tidak pernah mendengar kabarnya lagi sampai sekarang.

pemilik warung

Nih cerita gue......waktu itu gue kemalaman disebuah jalan didaerah Jawa Timur, gue baru pulang dari Lamongan dan waktu gue kemalaman dijalan itu ada warung pinggir jalan (warungnya agak kecil, gue nggak mau kasih tahu, soalnya cuma buat gue sendiri, elu2 cuma boleh numpang ngaceng aja). Akhirnya gue putusin buat mampir diwarung itu buat mnum kopi, waktu itu sekitar jam 7 malam, dan ada 3 orang laki2 didalam warung itu, semuanya sedang makan. Sedangkan pemilik warung seorang wanita yang umurnya kira2 40 tahunan, eh ada ceweknya manis banget, umurnya belakangan gue tahu, 18 tahun. Tapi tuh cewek bodinya oke banget, do'i pake rok warna merah tua dan kaos oblong putih. Roknya kekecilan sehingga tuh pantat mancung banget, toketnya apalagi....didadanya kebayang bh warna hitam, badan gue jadi panas banget. Belakangan gue denger nyokapnya atau apalah manggil do'i dengan sebutan Ati. Diem2 gue mergokin do'i ngelirik ke gue terus, badan gue makin panas dah. Sementara laki2 lainnya pada godain pemilik warung, setelah gue perhatiin emang boljug, biar udah stw tapi bodinya padat banget, apalagi pakai kebaya ketat begitu, toketnya gede banget, pokonya gede deh, pantatnya juga bahenol, tapi gue lebih nafsu sama anaknya (gue nggak tau anak atau bukan). Gue sih duduk diem2 aja sambil ngopi. "Kuehnya mas....." Wanita yang belakangan gue tau namanya Mina nawarin gue kueh sambil tersenyum genit. Sialan gue jadi perhatian orang2 diwarung itu. "Sombong si Mina, mentang2 ada yang muda" Tiba2 salah seorang dari laki2 disana nyeletuk. Si Mina monyongin mulutnya kearah laki2 itu. Gue mesem2 aja. "Payah dah.....udah kita jalan" Kata laki2 satunya lagi sambil membayar makanannya kepada Ati. Setelah itu mereka pergi semua, tinggal gue bertiga. Asyiiikkkk...... "Udah lama buka warungnya bu?" Gue mulai ngerapal. Si Ibu yg namanya Mina tersenyum manis. "Sudah 6 bulan mas......lumayan banyak langganan" Jawabnya. "Tapi sekarang kok sepi sih bu?" "Ah jangan panggil Ibu ah...jadi kedengarannya tua banget" "Habis?" "Panggil mbak aja ya.....dan ini keponakan saya, namanya Ati" Gue melirik ke Ati. Ati tersenyum manis banget kearah Gue. "Sekalian tempat tinggal?" Tanya gue lagi. "Iya....gini hari memang sudah agak sepi, biasanya sore2 baru ramai" Jawab Ati. Sementara mbak Mina duduk dibangku panjang disamping gue. "Suaminya kemana?" Gue mulai mancing. "Bude udah janda mas, janda kembang" Celetuk Ati sambil cekikikan. Wanita itu melotot. "Husss!!!" Sergah mbak Mina. "Emang kembang sih......" Gue pancing lagi. "Ah nggak kok....si Ati lebih cantik" "Iya....dua2nya kembang deh......bikin hati nggak keruan" Jawab gue. mbak Mina cekikikan. "Genit ah...." Sergahnya. Ati mengedipkan mata kearah gue. Gila juga nih, kok kayaknya ada kong kali kong? "Kok bilang gitu aja dikatain genit?" "Habis mas memang kelihatannya genit" Kata si Ati. Gue senyum2 aja, terus gue sodorin cangkir kopi yang udah kosong ke Ati. Cewek itu mengambilnya padahal gue tangan gue belon lepas dari cangkir, kadung aja gue remes tangannya. "Geniit aahh...." Ati berseru tertahan. "Kok?" "Habis remes2 tangan segala" Gue pikir Budenya marah, eh nggak taunya gue lihat die malah senyum2. "Masak kepegang aja dibilang genit?" protes gue. "Mas memang genit sih" Celetuk mbak Mina. Sementara si Ati kebelakang, mungkin nyuci atau apa, gue nggak tau deh. Gue keluarin rokok, tiba2 mbak Mina bangun terus menjulurkan tangannya kearah meja gue untuk mengambil piring bekas pisang goreng, waktu badannya membungkuk, toketnya persis menggantung didepan muka gue, gue makin kagum sama toket yang gede gitu, tapi kelihatannya masih keras banget. Gue lihat di balik kebayanya do'i pakai bh putih, belahan toketnya bangus banget, kayaknya do'i berlama2 beresin meja gue, soalnya sekarang gue lihat do'i pura2 beresin toples2 dan sekarang keteknya yang ada dimuka gue, terus nggak sengaja atau sengaja toketnya kena tangan gue waktu gue mau ngisap rokok gue. Tanggung deh, apa yg terjadi terjadilah....gue gosok aja toketnya pakai punggung tangan gue, do'i bergetar sedikit. "Nakal ya...." Bisiknya. Gue makin berani, gue rejeng aja toket do'i. Memang bener masih sekel banget. Dan remasan gue bikin do'i gelinjang dikit. "Sssshhhhh......" Do'i mendesis, matanya kayak orang stone. Gue terusin remes, ekarang gue pakai dua tangan, dan do'i makin mendesis, tangannya mencengkram pinggir meja kencang. Gue pindahin tangan kanan gue kepantatnya, gue remes2 pantatnya yang besar. Do'i meliuk2kan pantatnya kayak mau menghindar, tapi cengkraman gue lebih cepat. "Aduh nakal sekali tangannya.......aduh gila" Do'i kaget waktu mulutnya gue sosor, mulutnya terasa panas, lidah gue masuk kedalam mulutnya, do'i akhirnya mengeluarkan lidahnya juga, terus gue kenyot lidahnya, gantian, napas do'i memburu hebat, kontol gue udah ngaceng berat sampai sakit. "Udah ah.....didalam saja" Tiba2 do'i meronta, terus membenahi kebayanya, terus masuk kedalam, gue baru sadar dari tadi Ati lagi berdiri didepan ambang pintung yang memisahkan warungnya dengan bagian rumah tinggal. Cewek itu mesem2, yang bikin gue kaget, toket do'i diremes sama mbak Mia waktu mbak Mia masuk kedalam. Gue segera bangun terus berjalan mengikuti wanita itu, pas sampai didepan Ati tangan gue meremas bagian bawah perutnya. "Aawww......jahat sih" Ati menjerit manja. Gue lihat mbak Mina masuk kesalah satu kamar yang pakai pintu warna hijau dan kuning. Gue segera ikut masuk. "Mas mau sama Ati?" Tanya mbak Mia. Gue mengangguk. "Berapa?" Tanya gue. Mbak Mina senyum genit. "Dua ratus ribu" Jawab wanita itu. Mahal banget???? Tapi gue punya ide lain. "Sama mbka juga ya" Tawar gue. Wanita itu cekikikan. "Masak udah tua begini disuruh gituan?" Katanya, gue mesem2 aja. "Tapi kalo memang mau nggak apa2 deh, sama saya gratis aja, asal sama2 puas" Terus mbak Mina memanggil Ati, gue nggak mau tunggu Ati yang lagi tutup warung, gue langsung tomplok aja wanita bahenol itu. Mbak Mia cekikikan waktu mulut gue menjelajahi seluruh wajahnya, sementara tangan gue ngegerayangin seluruh tubuhnya. "Tolooong Ati...ada yang buas" Teriak wanita itu sambil menggeliat2kan badannya berusaha menghindar dari remasan tangan gue. Tangan kanan gue mengangkat sarungnya sehingga pahanya yang mulus putih itu terlihat, terus gue rogoh kedalam sarung yang sudah tersingkap itu, mulut do'i gue lumat, lidah kami membelit2 nggak keruan, ciuman do'i hebat banget. Tangan gue udah ketemu sama gundukan daging ditengah2 selangkangan, segera gue masukin jari2 gue kedalam memeknya, agak basah sedikit dan panas. "Aduh enaak Ati....cepat Atiiiii" Do'i mendesis keras. Gue tusuk2 terus memeknya dengan jari tengah dan telunjuk gue, kadang2 gue pijit2 itilnya yang gede. Gue bisa merasakan bibir memek do'i yang sudah menggelambir, tapi gue jadi makin nafsu. Tangan gue bergegas membuka seluruh kebayanya, sehingga sekarang Do'i cuma pakai BH putih dan cd coklat muda. Bulu ketek do'i lebat banget, gue langsung ciumin keteknya yang berbau harum, do'i kegelian sambil menjerit2, gue takut juga tetangga bisa tau. Tapi do'i bilang jarak rumah antar tetangga sekitar 300 meteran. Aman deh. Nggak lama kemudian Ati muncul, langsung gue tarik dan gue lumat mulutnya juga, sementara mbak Mina kayak kesetanan membuka pakaian gue. Cd gue ditarik keras, sehingga kontol gue yang udah ngaceng banget mencuat keluar. Langsung kontol gue dikocok2, gue lihat mbak Mia menjulurkan lidahnya dan menjilati lendir bening yang keluar dari ujung kontol gue. Biji peler gue dikenyot sama do'i dengan keras, gue merasa enak banget. Gue lumat mulut si Ati, tangan si Ati memijit2 puting tetek gue, aduh geli campur nikmat. Toket Ati dan mbak Mina gue remas bergantian, terus mbak Mia membuka bhnya sehinngga toketnya yang gede banget kayak loncat keluar dengan pentilnya yang super besar berwarna merah kehitaman. Si Ati bangun melepaskan pakainannya, sementara gue sodok kontol gue kedalam mulut mbak Mia. Wanita itu terlentang menerima sodokan kontol gue, mulutnya langsung mengikuti irama tusukan gue, kontol gue dikenyot abis, bulu kuduk gue merinding semua, sedotan do'i betul2 nggak ada duanya. Gue pompa terus kontol gue didalam mulutnya. Tiba2 gue menjerit keras, badan gua kejang semua, mbak Ati menekan pantat gue sehingga kontol gue masuk 3/4 kedalam mulutnya, lidah do'i membelit2 kepala kontol gua, gua langsung semprot semua air mani gua kedalam mulutnya. Do'i kenyot terus kontol gua sampai gue gemetaran. Gue nggak tahan, gue jatuhin kepala gue keselangkangannya, yang langsung kepala gue dijepit sama pahanya, pinggulnya bergerak2 menggosok2kan memeknya kemuka gue. Gue porotin cdnya, sekarang gue bisa mencium bau memek doi yang enak banget, agak2 berbau pesing, tapi gue nggak perduli, gue kenyot memeknya yang berjembut lebat banget, lidah gue menguak bibir memeknya yang lebar, gue sedot habis itilnya, do'i menjerit2, tapi gue nggak perduli, nggak lama kemudian si Ati minta dijilatin juga, langsung deh gue pindah kememeknya si Ati. Memek Ati kalah enak dibanding memek mbak Mia, soalnya lubang memeknya masih kecil, sehingga lidah gue enggak bisa masuk semua, itilnya juga kecil, kalo mbak Mia punya gede banget, lagian lobangnya udah lebar, sehingga gue bisa puas merasakan lendirnya. Si Ati berjongkok diatas muka gue, sementara mbak Mia mulai menuntun kontol gue kelubang memeknya. Blesss.....enak juga sih, gue heran juga biar lobang memeknya udah gede tapi kok kontol gue kayak dipijit2 didalam. Kontol gue belon ngaceng banget, tapi lumayan juga waktu didalam memeknya mbak Mia, pelan2 mulai joss lagi. Mbak Mia mengerang2 sambil memandang kegiatan gue menjilati memeknya Ati, sekalian lobang pantatnya juga gue kobel2 deh. Si Ati menjerit2 keenakan, do'i betul2 menikmati jilatan gue, pinggulnya meliuk2, kadang2 itilnya digosok2 kehidung gue, gue sih oke2 aja deh, lagian baunya juga enak sih. "Mas....mas.....aduh Mas.......aduh enak nih.....aaaa...a.aa.aa" Mbak Mia mengenjot kayak orang gila, sanggulnya lepas, sehingga rambutnya tergerai bebas, mulutnya monyong mendesis2, terus gue merasa memeknya diteken habis, sampe2 gue pinggang gue ngilu diteken gitu. Tangan mbak Mia menarik2 pentil tete gue, gue kegelian. tapi do'i terus mengenjot sampai tiba2 matanya berbalik putih, terus enjotannya diam, pinggulnya diulek2, do'i menyusupkan kepalanya ketoket gue, terus pentil toket gue disedot2, geli banget, bulu gue pada merinding, pinggul mbak Mia masih kadang2 tersentak, kontol gue masih terbenam dalam. "Gantian mbak...." Celetuk si Ati. Mbak Mina bangun membiarkan Ati yang duduk diatas badan gue, terus kontol gue yang masih tegang dituntun ke memeknya, bless....enak bener! Memek Ati masih peret banget, gue jadi semangat mengikuti enjotan cewek itu. Sementara Mbak Mina ngisepin pentil toket gua, gue sampe kegelian, tangan gue masuk kelobang memeknya, gue kobok2, basah banget. Terus ngak lama kemudian gue colok lobang pantatnya, Mbak Mina tersenyum genit sambil memandang gue, pinggulnya diayun2, sehingga telunjuk gue keluar masuk lobang pantatnya. Asik bener..... "Enak...." Desah Mbak Mina, si Ati juga mendesis2, nggak lama gue merasa mau meledak keenakan. "Mau keluarrrr....." Gue teriak. Sontak si Ati bangun terus kontol gue disosor masuk kedalam mulutnya. Seketika itu juga air mani gue meledak banyak, menyemprot2 hebat, si Ati tersentak2 kepalanya waktu gue ewein mulutnya, mbak Mina nggak mau kalah, dijilat2 air mani yang keluar dari sela2 mulut Ati. Gue merasa puas bener, terus mbak Mina nuntun gua ke kamar mandi, sampai disono gue masih dikerjain juga, tapi kali ini gue sodok aja lobang pantatnya, buset cing....rasanya heboh!!!

aku perkosa tanteku

Saya Dito.....umur 23 tahun baru lulus dari salah satu universitas ternama di Malang. Dan saya berasal dari keluarga baik-baik. Kejadian ini dimulai ketika saya menginap di rumah om saya di daerah sidoarjo. Om saya telah menikah dan memiliki 2 anak lelaki yang lucu umur 3 dan 5 tahun, serta memiliki istri yang cukup cantik (menurut saya) umurnya sekitar 27 tahun. saya sendiri tinggal disurabaya kurang lebih jarak tempat tinggalku dengan tante adalah 19 Km.......................... Awal kejadiannya adalah pada hari sabtu malam saya mendengar pertengkaran di rumah tersebut, yang tidak lain adalah om saya dengan tante saya. Ternyata penyakit 'gatel' om saya kambuh lagi yaitu sering pergi ke diskotik bersama temannya. Hal tersebut sangat menyakitkan tante saya, karena di sana om saya akan mabuk-mabukan dan terkadang pulangnya bisa pada hari Minggu malam. Entahlah apa yang dilakukan di sana bersama teman-temannya. Dan pada saat itu hanya aku bertiga saja di rumah: saya, Om Pram dan Tante Sis. "Brak.." suara gelas pecah menghantam pintu, cukup membuat saya kaget, dan om saya dengan marah-marah berjalan keluar kamar. Dari dalam kamar terdengar tante saya berteriak, "Nggak usah pulang sekalian, cepet ceraikan aku." Dalam hatiku berkata, "Wah ribut lagi." Om Pram langsung berjalan keluar rumah, menstarter mobil Tarunanya dan pergi entah ke mana. Di dalam kamar, aku mendengar Tante Sis menangis. Aku mau masuk ke dalam tapi takut kena damprat olehnya (kesalahan Om Pram dilimpahkan kepadaku). Tapi aku jadi penasaran juga. Takut nanti terjadi apa-apa terhadap Tante Sis. Maksudku akibat kecewa sama Om Pram dia langsung bunuh diri. Pelan-pelan kubuka pintu kamarnya. Dan kulihat dia menangis menunduk di depan meja rias. Aku berinisiatif masuk pelan-pelan sambil menghindari pecahan gelas yang tadi sempat dilemparkan oleh Tante Sis. Kuhampiri dia dan dengan pelan. Aku bertanya, "Kenapa Tan? Om kambuh lagi?" Dia tidak menjawab, hanya diam saja dan sesekali terdengar isak tangisnya. Cukup lama aku berdiri di belakangnya. Pada waktu itu aku hanya memandangnya dari belakang, dan kulihat ternyata Tante Sis mengenakan baju tidur yang cukup menggiurkan. Pada saat itu aku belum berpikiran macam-macam. Aku hanya berkesimpulan mungkin Tante Sis mengajak Om Pram, berdua saja di rumah, karena anak-anak mereka sedang pergi menginap di rumah adik Tante Sis. Dan mungkin juga Tante Sis mengajak Om bercinta (karena baju yang dikenakan cukup menggiurkan, daster tipis, dengan warna pink dan panjang sekitar 15 cm di atas lutut). Tetapi Om Pram tidak mau, dia lebih mementingkan teman-temannya dari pada Tante Sis. Tiba-tiba Tante Sis berkata, "To, Om kamu kayaknya udah nggak sayang lagi sama Tante. Sekarang dia pergi bersama teman-temannya ke Surabaya, ninggalin Tante sendirian di rumah, apa Tante udah nggak cakep lagi." Ketika Tante Sis berkata demikian dia berbalik menatapku. Aku setengah kaget, ketika mataku tidak sengaja menatap buah dadanya (kira-kira berukuran 34). Di situ terlihat puting susunya yang tercetak dari daster yang dikenakannya. Aku lumayan kaget juga menyaksikan tubuh tanteku itu. Aku terdiam sebentar dan aku ingat tadi Tante Sis menanyakan sesuatu, aku langsung mendekatinya (dengan harapan dapat melihat payudaranya lebih dekat lagi). "Tante masih cantik kok, dan Om kan pergi sama temannya. Jadi nggak usah khawatir Tan!" "Iya tapi temennya itu brengsek semua, mereka pasti mabuk-mabukan lagi dan main perempuan di sana." Aku jadi bingung menjawabnya. Secara refleks kupegang tangannya dan berkata, "Tenang aja Tan, Om nggak bakal macem-macem kok." (tapi pikiranku sudah mulai macam-macam). "Tapi Tante denger dia punya pacar di surabaya, malahan Tante kemarin pergoki dia telponan ama cewek, kalo nggak salah namanya Sella." "Masak Om tega sih ninggalin Tante demi cewek yang baru kenal, mungkin itu temennya kali Tan, dan lagian Tante masih tetap cantik kok." Tanpa Tante Sis sadari tangan kananku sudah di atas paha Tante Sis karena tangan kiriku masih memegang tangannya. Perlahan-lahan pahanya kuusap secara halus, hal ini kulakukan karena aku berkesimpulan bahwa tanteku sudah lama tidak disentuh secara lembut oleh lelaki. Tiba-tiba tanganku yang memegang pahanya ditepis oleh Tante Sis, dan berdiri dari duduknya, "To, saya tantemu saya harap kamu jangan kurang ajar sama Tante, sekarang Tante harap kamu keluar dari kamar tante sekarang juga!" Dengan nada marah Tante Sis mengusirku. Cukup kaget juga aku mendengar itu, dan dengan perasaan malu aku berdiri dan meminta maaf, kepada Tante Sis karena kekurangajaranku. Aku berjalan pelan untuk keluar dari kamar tanteku. Sambil berjalan aku berpikir, aku benar-benar terangsang dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Sejak aku putus dengan pacarku, terus terang kebutuhan biologisku kusalurkan lewat tanganku. Setelah sampai di depan pintu aku menoleh kepada Tante Sis lagi. Dia hanya berdiri menatapku, dengan nafas tersenggal-senggal (mungkin marah bercampur sedih menjadi satu). Aku membalikkan badan lagi dan di pikiranku aku harus mendapatkannya malam ini juga. Dengan masa bodoh aku menutup pintu kamar dari dalam dan menguncinya, lalu langsung berbalik menatap tanteku. Tante Sis cukup kaget melihat apa yang aku perbuat. Otakku sudah dipenuhi oleh nafsu binatang. "Mau apa kamu To?" tanyanya dengan gugup bercampur kaget. "Tante mungkin sekarang Om sedang bersenang-senang bersama pacar barunya, lebih baik kita juga bersenang-senang di sini, saya akan memuaskan Tante". Dengan nafsu kutarik tubuh tanteku ke ranjang, dia meronta-ronta, tetapi karena postur tubuhku lebih besar (tinggiku 182 cm dan beratku 75 kg, sedangkan Tante Sis memiliki tinggi tubuh sekitar 165 cm dan berat kurang lebih 50 kg) aku dapat mendorongnya ke ranjang, lalu menindihnya. "Lepasin Tante, Dito," suara keluar dari mulutnya tapi aku sudah tidak peduli dengan rontaannya. Dasternya kusingkap ke atas. Ternyata Tante Sis tidak mengenakan celana dalam sehingga terpampang gundukan bukit kemaluannya yang menggiurkan, dan dengan kasar kutarik dasternya bagian atas hingga payudaranya terpampang di depanku. Dengan bernafsu aku langsung menghisap putingnya, tubuh tanteku masih meronta-ronta, dengan tidak sabar aku langsung merobek dasternya dan dengan nafsu kujilati seluruh tubuhnya terutama payudaranya, cukup harum tubuh tanteku. Akibat rontaannya aku mengalami kesulitan untuk membuka pakaianku, tapi pelan-pelan aku dapat membuka baju dan celanaku. Sambil membuka baju dan celanaku itu, dengan bergantian tanganku mengusap bukit kemaluannya yang menurutku mulai basah (mungkin Tante Sis sudah mulai terangsang walaupun masih berkurang tetapi frekuensinya agak menurun sedikit). kemaluanku telah berdiri tegak dan kokoh nafsu telah menyelimuti semua kesadaranku bahwa yang kugeluti ini adalah isteri pamanku sendiri....yaitu tanteku.... Dengan tidak sabar aku langsung berusaha membenamkan kejantananku ke liang TANTEKU........... , Aku agak kesulitan menemukan celah kewanitaan tanteku,kadang kemaluanku meleset keatas dan bahkan kadang meleset kearah lubang anus tanteku . ini disebabkan tanteku bergerak kesana kemari berusaha menghindar dan menghalangi kemaluanku yang sudah siap tempur ini............................................ "To, jangan To, aku Tantemu tolong lepasin To, ampun, Tante minta ampun". Aku sudah tidak peduli lagi Rengekannya. .......usahaku kepalang tanggung dan harus berhasil......karena gagalpun mungkin akibatnya akan sama bahkan mungkin lebih fatal akibatnya....... Ketika lubang senggamanya kurasa sudah pas dengan dibantu cairan yang keluar dari liang kewanitaannya aku langsung menghujamkan senjataku. "Auuhh, sakit To, aduh.. Tante minta ampun.. tolong To jangan lakukan .....lepasin Tante To.." Ketika mendengar rintihannya, aku jadi kasihan, tetapi senjataku sudah di dalam, "Maaf Tante, saya sudah tidak tahan dan punyaku sudah terlanjur masuk nih.....," bisikku ke telinganya. Tante Sis hanya diam saja. Dan tidak berkata apa-apa. Dengan pelan dan pasti aku mulai memompa kemaluanku naik turun, ........tanteku menggelinjang hebat.....seakan akan masih ada sedikit pemberontakan dalam dirinya.... ssshhhhhhhhh....tanteku hanya mendesis lirih sambil menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan tak mau menatap wajahku.......kemudian Dia hanya diam pasrah dan kulihat air matanya berlinang keluar. Kucium keningnya dan bibirnya, sambil membisikkan, "Tante, Tante masih cantik dan tetap mengairahkan kok, saya sayang Tante, bila Om sudah tidak sayang lagi, biar Dito yang menyayangi Tante." Tante Sis hanya diam saja, dan kurasakan pinggulnya pun ikut bergoyang seirama dengan goyanganku. kemaluanku kudorong perlahan ...seakan ingin menikmati kenyamanan ini dengan waktu yang lama........ cllkk....clllkkkk.cclkkkk bunyi badanku beradu dengan badan tanteku.......seirama keluar masuknya kemaluanku kedalam liang senggamanya yangbetul betul enak...... ... Kira-kira 10 menit aku merasakan liang kewanitaan tanteku semakin basah dan kakinya menyilang di atas pinggulku dan menekan kuat-kuat mungkin tanteku sedang orgasme........................................... ............... kudiamkan sejenak .....kubiarkan tanteku menikmati orgasmenya.........kubenamkan lebih dalam kemaluanku ,sambil memeluk erat tubuhnya iapun membalasnya erat.....kurasakan tubuh tanteku bergetar.... kenikmatan yang dahsyat telah didapatkannya....... kubalik badan tanteku dan sekarang dia dalam posisi diatas......kemaluanku masih terbenam dalam kewanitaan tanteku......tapi dia hanya diam saja sambil merebahkan tubuhnya diatas tubuhku,....lalu kuangkat pinggul tanteku perlahan.....dan menurunkannya lagi....kuangkat lagi......dan kuturunkan lagi.......kemaluanku yang berdiri tegak menyodok deras keatas ...kelubang nikmatnya...... ahirnya tanpa kubantu ....tanteku menggoyangkan sendiri pantatnya naik turun..... oooooooccchhhhhhhh.......aku yang blingsatan kenikmatan... rupanya tanteku mahir dengan goyangannya diposisi atas.... kenikmatan maximum kudapatkan dalam posisi ini.... rupanya tanteku mengetahui keadaan ini ...ia tambah menggoyang goyangkan pantatnya meliuk liuk persis pantat Anisa bahar penyanyi dangdut dengan goyang patah patahnya....... oooooochhhhhh,............sshhh......kali ini aku yang mirip orang kepedasan aku mengangkat kepalaku...kuhisap puting susu tanteku..... ia mengerang........goyangannya tambah dipercepat.... dan 5 menit berjalan .......tanteku bergetar lagi......ia telah mendapatkan orgasmenya yang kedua...... pundakku dicengkeramnya erat...... ssshhhhhhh.........bibir bawahnya digigit...sambil kepalanya menengadah keatas..... "to....bangsat kamu.......tante kok bisa jadi gini.....ssssshhhh ....tante udah 2 kali kluarrrrrrrr..."..... aku hanya tersenyum..... "tulangku rasa lepas semua to...." aku kembali tersenyum... "tante gak pernah klimaks lebih dari 1 x kalo dengan ommu.." kubalik kembali badan tanteku dengan posisi konvensional.. kugenjot dengan deras kewanitaannya..... oooohhh oohhh....ssshhhhh tanteku kembali menggeliat pinggulnya mulai bergoyang pula mengimbangi genjotanku.............. aku pun sudah kepengen nyampe....... dan tidak lama kemudian akupun mengeluarkan spermaku di dalam liang senggamanya. ssshhhhhh......aaachhhhhhh.................... spermaku tumpah dengan derasnya kedalam liang senggama tanteku........ mata tanteku sayu menatapku klimaks......... permainan panjang yang sangat melelahkan......yang diawali dengan pemaksaan dan perkosaaan yang ahirnya berkesudahan dengan kenikmatan puncak yang sama sama diraih....... kulihat terpancar kepuasaan yang amat sangat diwajah tanteku....................... "kamu harus menjaga rahasia ini to....." aku hanya mengangguk.... dan sekarang tanteku tak perduli lagi kalau om ku mau pulang atau tidak....... karena kalau om ku keluar malam maka tanteku akan menghubungiku via HP untuk segera kerumahnya...... TAMAT

memori rumah kontrakan

Hai para netter, cerita ini berdasar kisah nyata seorang teman kami. Saya punya teman sebut saja dia Edy asal kota P, Sumatera Selatan. Kami kuliah di kota J. Pengalaman ini terjadi saat kami mengawali kuliah dan bersama dalam satu kontrakan. Suka duka kami lalui bersama sampai dalam hal pacaran pun kami saling membantu dalam berbagai hal. Hingga suatu waktu Edi mendapatkan seorang pujaan hati sebut saja Dewi, sering Dewi diantar jemput kalau kuliah karena mereka satu kampus dan kebetulan kontrakan Edi berdekatan dengan kost tempat tinggal Dewi. Mereka berdua bagaikan Romeo dan Juliet. Dimana ada Edi di situ ada Dewi. Hubungan mereka pun semakin akrab dan intim. Suatu ketika, malam Minggu tepatnya Dewi minta diantar ke tempat temannya yang sedang merayakan ulang tahun. Acara sangat meriah sekali, hingga jam 24 :00 acara masih berlangsung. Tetapi Dewi mengajak pulang, karena waktu yang sudah kelewat malam. Sebenarnya Edi pun menolak karena begitu meriahnya pesta ulang tahun tersebut. Dan akhirnya Edi pun menyanggupi untuk segera mengantar pulang Dewi, malam semakin larut dan udara dingin pun menyelimuti dan menghembus sepoi- sepoi dalam deru sepeda motor Edi, mereka sempat berhenti sejenak di pompa bensin untuk mengisi bensin. Sesampai di kost tempat Dewi ternyata pintu gerbang sudah dikunci, padahal Dewi sudah pesan kepada pembantu agar pintu jangan dikunci, soalnya Dewi pulangnya ke kost terlambat. Dan akhirnya Edi pun kasih solusi. "Dewi.. gimana kalau tidur saja di kontrakanku," kata Edi. Dewi terdiam sejenak. "Gimana ya.. aku kan enggak enak sama temen kamu Ed," jawab Dewi. "Itu bisa diatur, nanti yang penting kamu mau tidak, dari pada tidur di jalan," kata Edi sambil senyum. "Ayolah keburu dilihat orang kan nggak enak di jalanan seperti ini Nan," kata Edi. Dewi pun menyetujinya, mereka pun bergegas menuju kontrakan Edi. Sesampainya di rumah kontrakan tampak sunyi dan hanya hembusan angin malam karena teman-teman Edi pada malam mingguan dan tidak ada yang pulang di rumah kontrakan. "Ayo masuk, kok diam saja," kata Edi menyapa Dewi. Dewi pun terhentak sedikit terkejut. "Teman-temanmu dimana Ed?" tanya Dewi. "Mereka kalau malam Minggu jarang tidur di rumah," jawab Edi. "Ooo gitu," sergah Dewi. Akhirnya Dewi dipersilakan istirahat di kamar Edi. "Nan, selamat bobok ya.." kata Edi. Dewi pun tampak kelelahan dan tertidur pulas. Setengah jam kemudian Edi kembali ke kamarnya untuk melihat Dewi dan sengaja kunci pintu kamar tidak diberikan kepada Dewi, tapi betapa kagetnya Edy melihat Dewi tidur hanya menggunakan BH dan celana dalam, karena saat itu posisi tubuh Dewi miring hingga selimut yang menutupi tubuhnya bagian punggung tersingkap. Entah setan mana yang menyusup di benak Edy. Edy pun langsung mendekat ke arah Dewi, dengan tenangnya Edy langsung mencium bibir Dewi. Dewi pun terbangun. "Apa-apaan kamu Ed?" sergah Dewi sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Tanpa pikir panjang Edy langsung menarik selimut dan Edi pun langsung menindih Dewi yang hanya mengenakan pakaian dalam saja. Dewi meronta-ronta dan Edy pun tidak menggubris, ia berusaha melepas BH dan CD-nya. Tenaga Edi lebih kuat hingga akhirnya BH dan CD Dewi terlepas dengan paksa oleh Edi. Nampak jelas buah dada Dewi dan bulu lembut kemaluannya. Dewi kelelahan tanpa daya dan hanya menangis memohon kepada Edy. Edi tetap melakukan aksinya dengan meraba dan mencium semua tubuh Dewi tanpa sedikitpun terlewatkan. Dewi terus memohon, Edi pun tak menggubrisnya. Dan setelah puas menciumi vagina Dewi, Edi melakukan aksi lebih brutal. Ia mengangkat kedua kaki Dewi di atas perut dan dengan cepat Edy mencoba memasukkan penisnya ke dalam vagina Dewi. Dewi menjerit tertahan dan hanya isak tangis yang terdengar, "Kumohon Ed, hentikan!" seru Dewi dalam isak tangisnya. Dan "Bleess, bleess," penis Edi masuk dalam vagina Dewi walaupun di awal masuknya cukup sulit. Edy pun mulai menggoyang pinggulnya hingga penisnya terkocok di dalam vagina Dewi. Darah segar pun keluar dari liang jinak Dewi, ia pun terus memohon. "Akh.. akh.. hentikan Ed..!" desah Dewi. Tampak sekali wajah Dewi menunjukkan kelelahan, dan sekarang hanya terdengar erangan kenikmatan di antara kedua insan ini. "Ah.. ah.. ah.." Edi pun terus mengocok penisnya dalam vagina Dewi dan beberapa saat kemudian terasa Edi akan mengeluarkan sperma, ia pun langsung mencabut dan mengocoknya dari luar dan.. "Croot.. Croot.. Serr.." sperma Edi muncrat tepat di bibir Dewi dan sekitar wajah. Mereka kelelahan dan akhirnya tertidur. Hari menjelang pagi saat itu jam menunjukkan pukul 07 :30 pagi, Dewi terbangun bersamaan dengan itu Edi juga terbangun. Edi melihat Dewi yang sedang mengenakan BH dan CD. "Antar aku pulang sekarang Ed.." kata Dewi. "Iya.. aku cuci muku dulu," jawab Edi. Edi pun mengantar Dewi pulang ke kostnya. Selang beberapa bulan hubungan mereka mulai retak, ada selentingan kabar kalau Edi mendekati cewek lain sebut saja Sinta, dan akhirnya Edi dan Dewi resmi bubaran. Tapi reaksi Edi tidak sampai di situ, justru setelah putus dengan Dewi ia gencar mendekati Sinta. Dengan berbagai cara dan upaya akhirnya Edi berhasil mendapatkan Sinta dan mereka resmi jadian. Sama seperti yang dilakukannya dulu, ia sering antar jemput kuliah Sinta dan kalaupun jemput Sinta biasanya tidak langsung pulang melainkan jalan- jalan kemana saja sambil cari makan tentunya. Sering pula Sinta diajak ke tempat kontrakan Edi lebih sering dibandingkan Dewi pacar yang dulu. Pagi itu kuliah jam ke-2 mereka satu ruangan tapi dosen tidak hadir jadi kosong, mereka berdua bergegas ke tempat Edi, sampai di kontrakan rumah sepi soalnya teman-teman ada yang ke kampus dan ada juga yang masih tidur. Mereka berdua langsung masuk kamar Edi, Sinta tiduran di ranjang sambil mendengarkan musik. Edi masuk membawakan kopi susu dan tanpa basa basi Edi membelai rambut Sinta dan Sinta pun bersandar dalam dekapan Edi. Edi langsung mencium bibir Sinta dan tangannya mulai masuk dalam baju street Sinta dan meremas-remas payudara. "Ed.. jangan dong.." desah Sinta. "Enggak apa-apa, kan cuma dikit," kata Edi, tapi Edi terus menyerang, ia melepas seluruh pakaian Sinta dan Sinta pun hanya diam tanpa perlawanan, dan jelas sudah seluruh tubuh Sinta yang kuning langsat dan payudara lumayan besar. Mereka mulai bergelut mencium dan meremas satu sama lain. "Sin, kulum dong kontolku!" kata Edi. Dibimbingnya kepala Sinta menuju kemaluan Edi dan, "Em.. kemaluanmu besar juga Ed," kata Sinta. Edi hanya diam menikmati hisapan mulut Sinta. Edi pun langsung saja menjilati dan menghisap vagina Sinta hingga mereka melakukan posisi 69. "Ugh.. Ugh.." desah Sinta. Kemudian Edi duduk dengan kaki dijulurkan, ia minta Sinta duduk di atasnya layaknya seorang anak kecil. Tepat penis Edi masuk dalam vagina Sinta. "Pelan-pelan Ed.." kata Sinta mendesah. Sinta mulai menaik- turunkan pinggulnya dan "Bleess, bleess.." kemaluan Edi masuk seluruhnya dalam vagina Sinta. "Ah.. ah.. ah.." desah Sinta sambil menggoyangkan pinggulnya. Edi pun merespon gerakan tersebut. Dan mereka melakukan gerakan yang seirama, "Ah.. ah.. ah.." desah Sinta semakin keras. "Aku nggak kuat Ed.." Edi hanya diam menikmati gerakan-gerakan yang dimainkan Sinta. Dan akhirnya, "Ugh.. ugh.. ugh.. ahh.." desah Sinta yang tubuhnya mengelenjang sambil memeluk tubuh Edi. Ternyata Sinta mencapai puncak kenikmatan. Dan Edi membalikkan tubuh Sinta tepat di bawah badannya, Edi mulai mengocok penisnya yang belum lepas dari vagina Sinta, dan "Ahk.." desah Edi dan beberapa saat kemudian Edi mencabut penisnya dan meletakkan di bibir Sinta dan "Croot.. Croot.. Serr.." sperma Edi muncrat tepat di seluruh wajah Sinta. Mereka pun akhirnya berpelukan setelah mencapai kepuasan. Semenjak kejadian itu mereka sering melakukannya di kontrakan Edi. Entah siang atau malam karena Sinta sering menginap dan tidur satu ranjang bersama Edi. Hubungan mereka semakin intim dan hanya bertahan selama 8 bulan. Hal itu disebabkan Dewi mantan pacar yang dulu mengajak membina hubungan kembali. Edi akhirnya pisah dengan Sinta dan kembali lagi dengan Dewi. Suatu sore Dewi datang ke kontrakan Edi, Dewi langsung masuk menunggu di kamar Edi karena diminta teman- teman Edi. "Edi baru mandi" kata salah seorang temannya. "Ooo," jawab Sinta, dan beberapa saat kemudian Edi masuk dan hanya mengenakan handuk dilingkarkan di pinggulnya. "Sama siapa Wii.." kata Edi. "Sendiri," jawab Dewi sambil mendekat ke arah Edi. Edi tanggap dengan situasi itu, ia langsung mencium bibir Dewi dan melepas baju street warna biru muda yang dipakai Dewi. Edi langsung mencopot BH dan menghisap puting susu Dewi. "Ah.. ah.." desah Dewi. Tangan Dewi langsung meremas penis Edi yang saat itu handuknya telah jatuh ke lantai. Edi mulai melapas celana panjang Dewi serta CD-nya. Mereka bergumul di atas ranjang. "Ah.. ah.." desah Dewi yang semakin merasakan kenikmatan. Edi mengangkat kaki kiri Dewi kemudian dengan sergapnya Edi mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Dewi sambil kaki kiri Dewi tetap terangkat. "Bleess, bleess.." kemaluan Edi masuk seluruhnya dalam vagina, Edi suka dengan posisi seperti itu karena vagina terasa sempit. Edi mulai menggerakkan kemaluannya keluar- masuk. "Ah.. ah.. ah.." erangan kenikmatan keluar dari bibir Dewi, Edi pun merasakan kenikmatan pula. "Ugh.. ugh.." desah Edi pelan. Beberapa saat kemudian Edi melepas penisnya, Dewi mulai menghisap dan menjilati penis Edi sambil dikocok dengan jari-jemari lembut Dewi. "Kulum dong Wi.." desah Edi. Dewi turuti saja apa kemauan Edi. Kemudian Edi kembali memasukkan penisnya dalam vagina Dewi, "Bless.." langsung masuk dan Dewi sempat menjerit tertahan karena menahan sakit. Kemudian Edi mulai menggerakkan penisnya, "Bleess.. bleess.." kemaluan Edi keluar-masuk. "Ah.. ah.. ugh.." tubuh Dewi mulai bergetar dan mengelejang. "Aku keluar Ed.." desah Dewi tapi Edi masih mengocok penisnya dalam vagina Dewi dan Dewi hanya menahan. Kedua tangannya mencengkeram kuat bibir tempat tidur sambil menahan gerakan yang Edi lakukan. Edi mulai bergetar, "Ugh.." desahnya. "Di luar apa di dalam Wi.." kata Edi pelan. Dewi hanya diam dan "Croot.. croot.. serr.." sperma Edi keluar di dalam vagina Dewi. Edi pun rebah sambil memeluk tubuh Dewi yang hangat dan lunglai. Mereka tersenyum puas. "Kamu pinter dech sekarang Wi.." kata Edi. "Pinter apa'an," jawabnya. "Pinter mainnya, belum lagi bulu vagina kamu tambah lebat." Dewi hanya tersenyum saja sambil tangannya membelai batang kemaluan Edi. Hari sudah menjelang pukul tujuh malam dan akhirnya mereka berpakaian dan keluar untuk makan malam. TAMAT

hasrat pembantu

Hai para pembaca,saya akan menceritakan cerita yg benar terjadi.pulang sekolah ku lihat jam tanganku menunjukkan pukul 15.00 wib segera aku pulang ke rumah seperti biasa.kubuka pintu rumahku namun aku tidak melihat kedua orang tua,tiba-tiba melintas wanita manis berambut sebahu lebih,bibirnya seksi berumur 25 ,tidak terlalu tinggi namun mempunyai payudara yg besar hingga bajunya terlihat tertarik ke depan dan yg paling menonjol dari semua itu adalah pantatnya yg padat terisi mengahadap keatas sangat menantang,baru kusadari wanita itu adalah pembantuku yg baru bekerja 1 bulan namanya mbak sari. "eh,den fauzi(namaku) sudah pulang?"tanyanya, "udah mbak,mbak mama sama papa kemana?" dia menjawab "tadi pergi ke tante siska katanya tantemu sudah melahirkan,dan katanya mereka akan pulang besok" maklum soalnya jarak bandung-jakarta memakan waktu.aku pun beranjak ke kamarku berganti pakaian, inilah kebiasaan burukku apabila tidak ada orang dirumahku aku memilih menggunakan kaos tanpa celana alias setengah bugil,aku rebahan di kasur tanpa terasa aku merasa mengantuk dan tertidur. Tersadar dari tidurku, kulihat jam menunjukkan pukul 16.30, kulihat pintu kamarku yg terbuka padahal sebelum tidur aku menutup pintu,atau mungkin pembantuku melihat keadaanku, ah masa bodo aku bergegas keluar kamar,tidak ada orang mungkin mbak sari sedang istirahat di kamarnya, aku pun pergi ke kamar mandi yg bersebelahan dengan kamar pembantu. Saat aku melewati kamar pembantu, kubuka pintu dan terhenyak melihat mbak sari dengan seleting celana terbuka tanpa CD terlihat cairan membasahi celananya sementara bagian atas terlihat buah dada besar sebesar bola sepak menonjol dibawah baju yg terlipat keatas sampai leher,posisinya terlentang. Aku tidak bisa berkata apa apa hanya mengagumi pembantu seksi ini, namun bodohnya aku malah kembali ke kamar dan onani. Malam pun tiba,seperti biasa aku menonton tv di ruang tengah sambil tiduran dan pembantu ku datang dengan pakaian yg sama dengan yg tadi aku lihat,terlihat celananya masih basah sedikit."den fauzi, lagi nonton apa nich"sambil rebahan disampingku, "lagi nonton nich tapi ga ada yg rame". Ia membalik badan sambil tiduran membelakangiku. Aku sudah tidak tahan lagi melihat pantatnya membelakangiku,akhir nya kuberanikan diri,tanganku gesekan ke bagian bawah memeknya semakin lama semakin keras ku tekan dan terdengar, "achk,,,ah ah ah". Dia menepis tanganku dan berdiri, dia berkata "fauzi mbak sudah lama pengen ngentot sama den, apalagi tadi mbak liat kontol kamu bebas menggantung, boleh kan mbak ngentot ma kamu pliss "aku hanya menatap tangannya yg terus menggoyangkan toketnya. "iya boleh mbak, asal fauzi boleh ngerasain pantat besar mbak ya "tanpa menunggu aba aba dia membuka pakaiannya yg tanpa bh dan cd, dia langsung menarik celanaku dan memaju mundurkan mulutnya yg seksi itu sambil berjongkok, sangat indah melihat bibirnya itu membasahi kontolku dgn ludahnya dan ekpresinya yg nakal sambil tangannya meremas toket yg besar. Setelah itu aku meminta agar dimasukan ke memeknya, dan dia memberinya dengan goyangan memutar dan memaju mundurkan dgn sangat cepat, hampir saja aku kelepasan kalo tidak aku meminta agar keinginan terbesarku untuk memasukan ke lubang pantatnya yg besar menantang sekali. "den fauzi,masukinnya pelan ya, soalnya belum ada yg coba, kalo memek sari sih udah sering diobok sama sari". akhirnya kumasukan pelan pelan,sangat susah selain lobangnya kecil dan pantat berisi,dan akhirnya masuk juga dia menjerit, rasanya sangat hangat, sangat sempit,masih keset sedikit. Kumaju mundurkan, dia menjerit sambil berkata"ack, masukin yg dalem,,uh,sa,,sakit sedikit,,,angh,oh".sudah 15 menit dia terlihat menikmati, seperti biasa dia meremas toketnya.aku pun sudah tidak kuat lagi,apalagi dia memutar seperti sedang bergoyang erotis...dan croot crot, jebolah pertahananku dan dia kami tertidur sambil dia membersihkan kontol 17cm ini dgn mulutnya. kami pun tertidur dan saat pagi hari ku genjot lagi memeknya sambil santai menonton tv dan minum teh hangat.sekian cerita singkatku

kurang puas di bioskop

Pagi itu aku bangun kesiangan, seisi rumah rupanya sudah pergi semua. Akupun segera mandi dan berangkat ke kampus. Meskipun hari itu kuliah sangat padat, pikiranku nggak bisa konsentrasi sedikitpun, yang aku pikirkan cuma Rani. Aku pulang kerumah sekitar jam 3 sore, dan rumah masih sepi. Kemudian ketika aku sedang nonton TV di ruang keluarga sehabis ganti baju, Rani keluar dari kamarnya, sudah berpakaian rapi. Dia mendekat dan mukanya menunduk. "Dodi, kamu ada acara nggak? Temani aku nonton dong.." "Eh.. apa? Iya, iya aku nggak ada acara, sebentar yah aku ganti baju dulu" jawabku, dan aku buru- buru ganti baju dengan jantung berdebaran. Setelah siap, akupun segera mengajaknya berangkat. Rani menyarankan agar kami pergi dengan mobilnya. Aku segera mengeluarkan mobil, dan ketika Rani duduk di sebelahku, aku baru sadar kalau dia memakai rok pendek, sehingga ketika duduk ujung roknya makin ke atas. Sepanjang perjalanan ke bioskop mataku nggak bisa lepas melirik kepahanya. Sesampainya dibioskop, aku beranikan memeluk pinggangnya, dan Rani tidak menolak. Dan sewaktu mengantri di loket aku peluk dia dari belakang. Aku tahu Rani merasa penisku sudah tegang karena menempel di pantatnya. Rani meremas tanganku dengan kuat. Kita memesan tempat duduk paling belakang, dan ternyata yang nonton nggak begitu banyak, dan disekeliling kita tidak ditempati. Kita segera duduk dengan tangan masih saling meremas. Tangannya sudah basah dengan keringat dingin, dan mukanya selalu menunduk. Ketika lampu mulai dipadamkan, aku sudah tidak tahan, segera kuusap mukanya, kemudian aku dekatkan ke mukaku, dan kita segera berciuman dengan gemasnya. Lidahku dan lidahnya saling berkaitan, dan kadang- kadang lidahku digigitnya lembut. Tanganku segera menyelinap ke balik bajunya. Dan karena tidak sabar, langsung saja aku selinapkan ke balik BH-nya, dan payudaranya yang sebelah kiri aku remas dengan gemas. Mulutku langsung diisap dengan kuat oleh Rani. Tangankupun semakin gemas meremas payudaranyanya, memutar-mutar putingnya, begitu terus, kemudian pindah ke susu yang kanan, dan Rani mulai mengerang di dalam mulutku, sementara penisku semakin meronta menuntut sesuatu. Kemudian tanganku mulai mengelus pahanya, dan kuusap- usap dengan arah semakin naik ke atas, ke pangkal pahanya. Roknya aku singkap ke atas, sehingga sambil berciuman, di keremangan cahaya, aku bisa melihat celana dalamnya. Dan ketika tanganku sampai di selangkangannya, mulut Rani berpindah menciumi telingaku sampai aku terangsang sekali. Celana dalamnya sudah basah. Tanganku segera menyelinap ke balik celana dalamnya, dan mulai memainkan clitorisnya. Aku elus- elus, pelan-pelan, aku usap dengan penuh perasaan, kemudian aku putar-putar, makin lama makin cepat, dan makin lama makin cepat. Tiba- tiba tangannya mencengkeram tanganku, dan pahanya juga menjepit telapak tanganku, sedangkan kupingku digigitnya sambil mendesis-desis. Badanya tersentak- sentak beberapa saat. "Dodi.. aduuhh.., aku nggak tahan sekali.., berhenti dulu yaahh.., nanti dirumah ajaa..", rintihnya. Akupun segera mencabut tanganku dari selangkangannya. "Dodi.., sekarang aku mainin punya kamu yaahh..", katanya sambil mulai meraba celanaku yang sudah menonjol. Aku bantu dia dengan aku buka ritsluiting celana, kemudian tangannya menelusup, merogoh, dan ketika akhirnya menggenggam penisku, aku merasa nikmat luar biasa. Penisku ditariknya keluar celana, sehingga mengacung tegak. "Dodi.., ini sudah basah.., cairannya licin..", rintihnya dikupingku sambil mulai digenggam dengan dua tangan. Tangan yang kiri menggenggam pangkal penisku, sedangkan yang kanan ujung penisku dan jari-jarinya mengusap-usap kepala penis dan meratakan cairannya. "Rani.., teruskan sayang..", kataku dengan ketegangan yang semakin menjadi-jadi. Aku merasa penisku sudah keras sekali. Rani meremas dan mengurut penisku semakin cepat. Aku merasa spermaku sudah hampir keluar. Aku bingung sekal i karena takut kalau sampai keluar bakal muncrat kemana-mana. "Rani.., aku hampir keluar nih.., berhenti dulu deh..", kataku dengan suara yang nggak yakin, karena masih keenakan. "Waahh.., Rani belum mau berhenti.., punya kamu ini bikin aku gemes..", rengeknya "Terus gimana.., apa enaknya kita pulang saja yuk..?!" ajakku, dan ketika Rani mengangguk setuju, segera kurapikan celanaku, juga pakaian Rani, dan segera kita keluar bioskop meskipun filmnya belum selesai. Di mobil tangan Rani kembali mengusap-usap celanaku. Dan aku diam saja ketika dia buka ritsluitingku dan menelusupkan tangannya mencari penisku. Aduh, rasanya nikmat sekali. Dan penisku makin berdenyut ketika dia bilang, "Nanti aku boleh nyium itunya yah..". Aku pengin segera sampai ke rumah. Dan, akhirnya sampai juga. Kita berjalan sambil berpelukan erat-erat. Sewaktu Rani membuka pintu rumah, dia kupeluk dari belakang, dan aku ciumi samping lehernya. Tanganku sudah menyingkapkan roknya ke atas, dan tanganku meremas pinggul dan pantatnya dengan gemas. Rani aku bimbing ke ruang keluarga. Sambil berdiri aku ciumi bibirnya, aku lumat habis mulutnya, dan dia membalas dengan sama gemasnya. Pakaiannya kulucuti satu persatu sambil tetap berciuman. Sambil melepas bajunya, aku mulai meremasi payudaranya yang masih dibalut BH. Dengan tak sabar BH- nya segera kulepas juga. Kemudian roknya, dan terakhir celana dalamnya juga aku turunkan dan semuanya teronggok di karpet. Badannya yang telanjang aku peluk erat- erat. Ini pertama kalinya aku memeluk seorang gadis dengan telanjang bulat. Dan gadis ini adalah Rani yang sering aku impikan tapi tidak terbayangkan untuk menyentuhnya. Semuanya sekarang ada di depan mataku. Kemudian tangan Rani juga melepaskan bajuku, kemudian celana panjangku, dan ketika melepas celana dalamku, Rani melakukannya sambil memeluk badanku. penisku yang sudah memanjang dan tegang sekali segera meloncat keluar dan menekan perutnya. uuhh, rasanya nikmat sekali ketika kulit kami yang sama-sama telanjang bersentuhan, bergesekan, dan menempel dengan ketat. Bibir kami saling melumat dengan nafas yang semakin memburu. Tanganku meremas pantatnya, mengusap punggungnya, mengelus pahanya, dan meremasi payudaranya dengan bergantian. Tangan Rani juga sudah menggenggam dan mengelus penisku. Badan Rani bergelinjangan, dan dari mulutnya keluar rintihan yang semakin membangkitkan birahiku. Karena rumah memang sepi, kita jadi mengerang dengan bebas. Kemudian sambil tetap meremasi penisku, Rani mulai merendahkan badannya, sampai akhirnya dia berlutut dan mukanya tepat didepan selangkanganku. Matanya memandangi penisku yang semakin keras di dalam genggamannya, dan mulutnya setengah terbuka. Penisku terus dinikmati, dipandangi tanpa berkedip, dan rupanya makin membuat nafsunya memuncak. Mulutnya perlahan mulai didekatkan kekepala penisku. Aku melihatnya dengan gemas sekali. Kepalaku sampai terdongak ketika akhirnya bibirnya mengecup kepala penisku. Tangannya masih menggenggam pangkal penisku, dan mengelusnya pelan- pelan. Mulutnya mulai mengecupi kepala penisku berulang-ulang, kemudian memakai lidahnya untuk meratakan cairan penisku. Lidahnya memutar-mutar, kemudian mulutnya mulai mengulum dengan lidah tetap memutari kepala penisku. Aku semakin mengerang, dan karena nggak tahan, aku dorong penisku sampai terbenam ke mulutnya. Aku rasa ujungnya sampai ke tenggorokannya. Rasanya nikmat sekali. Kemudian pelan-pelan penisku disedot-sedot dan dimaju-mundurkan di dalam mulutnya. Rambutnya kuusap-usap dan kadang-kadang kepalanya aku tekan- tekan agar penisku semakin terasa nikmat. Isapan mulut dan lidahnya yang melingkar-lingkar membuatku merasa sudah nggak tahan. Apalagi sewaktu Rani melakukannya semakin cepat, dan semakin cepat, dan semakin cepat. Ketika akhirnya aku merasa spermaku mau muncrat, segera kutarik penisku dari mulutnya. Tapi Rani menahannya dan tetap mengisap penisku. Maka akupun nggak bisa menahan lebih lama lagi, spermaku muncrat di dalam mulutnya dengan ras a nikmat yang luar biasa. Spermaku langsung ditelannya dan dia terus mengisapi dan menyedot penisku sampai spermaku muncrat berkali-kali. Badanku sampai tersentak-sentak merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Meskipun spermaku sudah habis, mulut Rani masih terus menjilat. Akupun akhirnya nggak kuat lagi berdiri dan akhirnya dengan nafas sama-sama tersengal- sengal kita berbaring di karpet dengan mata terpejam. "Thanks ya Ran, tadi itu nikmat sekali", kataku berbisik "Ah.., aku juga suka kok.., makasih juga kamu ngebolehin aku mainin kamu..". Kemudian ujung hidungnya aku kecup, matanya juga, kemudian bibirnya. Mataku memandangi tubuhnya yang terbaring telanjang, alangkah indahnya. Pelan-pelan aku ciumi lehernya, dan aku merasa nafsu kita mulai naik lagi. Kemudian mulutku turun dan menciumi payudaranya yang sebelah kanan sedangkan tanganku mulai meremas susu yang kiri. Rani mulai menggeliat-geliat, dan erangannya membuat mulut dan tanganku tambah gemas memainkan susu dan putingnya. Aku terus menciumi untuk beberapa saat, dan kemudian pelan-pelan aku mulai mengusapkan tanganku keperutnya, kemudian kebawah lagi sampai merasakan bulu jembutnya, aku elus dan aku garuk sampai mulutnya menciumi telingaku. Pahanya mulai aku renggangkan sampai agak mengangkang. Kemudian sambil mulutku terus menciumi payudaranya, jariku mulai memainkan clitorisnya yang sudah mulai terangsang juga. Cairan kenikmatannya kuusap-usapkan ke seluruh permukaan kemaluannya, juga ke clitorisnya, dan semakin licin clitoris serta liang kewanitaannya, membuat Rani semakin menggelinjang dan mengerang. clitorisnya aku putar-putar terus, juga mulut kemaluannya bergantian. "Ahh.., Dodii.., aahh.., teruss.., aahh.., sayaangg..", mulutnya terus meracau sementara pinggulnya mulai bergoyang- goyang. Pantatnya juga mulai terangkat-angkat. Akupun segera menurunkan kepalaku kearah selangkangannya, sampai akhirnya mukaku tepat di selangkangannya. Kedua kakinya aku lipat ke atas, aku pegangi dengan dua tanganku dan pahanya kulebarkan sehingga liang kewanitaan dan clitorisnya terbuka di depan mukaku. Aku tidak tahan memandangi keindahan liang kewanitaannya. Lidahku langsung menjulur dan mengusap clitoris dan liang kewanitaannya. Cairan surganya kusedot-sedot dengan nikmat. Mulutku menciumi bibir kemaluannya dengan ganas, dan lidahku aku selip- selipkan ke lubangnya, aku kait-kaitkan, aku gelitiki, terus begitu, sampai pantatnya terangkat, kemudian tangannya mendorong kepalaku sampai aku terbenam di selangkangannya. Aku jilati terus, clitorisnya aku putar dengan lidah, aku isap, aku sedot, sampai Rani meronta-ronta. Aku merasa penisku sudah tegak kembali, dan mulai berdenyut-denyut. "Dodii.., aku nggak tahan.., aduuhh.., aahh.., enaakk sekalii..", rintihnya berulang-ulang. Mulutku sudah berlumuran cairan kewanitaannya yang semakin membuat nafsuku tidak tertahankan. Kemudian aku lepaskan mulutku dari liang kewanitaannya. Sekarang giliran penisku aku usap-usapkan ke clitoris dan bibir kemaluannya, sambil aku duduk mengangkang juga. Pahaku menahan pahanya agar tetap terbuka. Rasanya nikmat sekali ketika penisku digeser-geserkan diliang senggamanya. Rani juga merasakan hal yang sama, dan sekarang tangannya ikut ngebantu dan menekan penisku digeser-geserkan di clitorisnya. "Ranii.., aahh.., enakk.., aahh.." "aahh.., iya.., eennaakk sekalii..". Kita saling merintih. Kemudian karena penisku semakin gatal, aku mulai menggosokkan kepala penisku ke bibir kemaluannya. Rani semakin menggelinjang. Akhirnya aku mulai mendorong pelan sampai kepala penisku masuk ke liang senggamanya. "Aduuhh.. Dodii.., saakiitt.., aadduuhh.., jaangaann..", rintihnya "Tahan dulu sebentar.., Nanti juga ilang sakitnya..", kataku membujuk Kemudian pelan-pelan penisku aku keluarkan, kemudian aku tekan lagi, aku keluarkan lagi, aku tekan lagi, kemudian akhirnya aku tekan lebih dalam sampai masuk hampir setengahnya. Mulut Rani sampai terbuka tapi sudah nggak bisa bersuara. Punggungnya terangkat dari karp et menahan desakan penisku. Kemudian pelan-pelan aku keluarkan lagi, aku dorong lagi, aku keluarkan lagi, terus sampai dia tenang lagi. Akhirnya ketika aku mendorong lagi kali ini aku dorong sampai amblas semuanya ke dalam. Kali ini kita sama- sama mengerang dengan keras. Badan kita berpelukan, mulutnya yang terbuka aku ciumi, dan pahanya menjepit pinggangku dengan keras sekali sehingga aku merasa ujung penisku sudah mentok ke dinding kemaluannya. Kita tetap berpelukan dengan erat saling mengejang untuk beberapa saat lamanya. Mulut kita saling mengisap dengan kuat. Kami sama-sama merasakan keenakan yang tiada taranya. Setelah itu pantatnya sedikit demi sedikit mulai bergoyang, maka akupun mulai menggerakkan penisku pelan-pelan, maju, mundur, pelan, pelan, makin cepat, makin cepat, dan goyangan pantat Rani juga semakin cepat. "Dodii.., aduuhh.., aahh.., teruskan sayang.., aku hampir niihh..", rintihnya. "Iya.., nihh.., tahan dulu.., aku juga hampir.., kita bareng ajaa..", kataku sambil terus menggerakkan penis makin cepat. Tanganku juga ikut meremasi susunya. Penisku makin keras kuhujam- hujamkan ke dalam liang surganya sampai pantatnya terangkat dari karpet. Dan aku merasa liang senggamanya juga menguruti penisku di dalam. penis kutarik dan tekan semakin cepat, semakin cepat.., dan semakin cepat..". "Raanii.., aku mau keluar niihh..". "Iyaa.., keluarin saja.., Rani juga keluar sekarang niihh". Akupun menghunjamkan penisku keras-keras yang disambut dengan pantat Rani yang terangkat ke atas sampai ujung penisku menumbuk dinding kemaluannya dengan keras. Kemudian pahanya menjepit pahaku dengan keras sehingga penisku makin mentok, tangannya mencengkeram punggungku. Liang kewanitaannya berdenyut-denyut. Spermaku memancar, muncrat dengan sebanyak-banyaknya menyirami liang senggamanya. "aahh.., aahh.., aahh..", kita sama-sama mengerang, dan liang kewanitaannya masih berdenyut, mencengkeram penisku, sehingga spermaku berkali-kali menyembur. Pantatnya masih juga berusaha menekan- nekan dan memutar sehingga penisku seperti diperas. Kita orgasme bersamaan selama beberapa saat, dan sepertinya nggak akan berakhir. Pantatku masih ditahan dengan tangannya, pahanya masih menjepit pahaku erat-erat, dan liang senggamanya masih berdenyut meremas- remas penisku dengan enaknya sehingga sepertinya spermaku keluar semua tanpa bersisa sedikitpun. "aahh.., aahh.., aduuhh..", kita sudah nggak bisa bersuara lagi selain mengerang-erang keenakan. Ketika sudah mulai kendur, aku ciumi Rani dengan penis masih di dalam liang senggamanya. Kita saling berciuman lagi untuk beberapa saat sambil saling membelai. Aku ciumi terus sampai akhirnya aku menyadari kalau Rani sedang menangis. Tanpa berbicara kita saling menghibur. Aku menyadari bahwa selaput daranya telah robek oleh penisku. Dan ketika penisku aku cabut dari sela-sela liang kewanitaannya memang mengalir darah yang bercampur dengan spermaku. Kami terus saling membelai, dan Rani masih mengisak di dadaku, sampai akhirnya kita berdua tertidur kelelahan dengan berpelukan.

seks kilat

Namaku Joko.Aku adalah seorang manajer di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.Walaupun aku sudah lama bekerja tetapi aku masih melajang.Kisah ini diawali saat aku bertemu seorang mahasiswi yang sedang magang di kantorku.Mahasiswi tersebut bernama Erika.Aku tidak begitu tahu kuliah apa yang ia ambil,tetapi ia bekerja sebagai sekretaris di kantorku.

Adapun Erika adalah gadis yang sangat manis,berkulit putih layaknya wanita keturunan Chinese,memiliki tubuh langsing bak gitar,rambutnya berwarna hitam kecoklatan dgn panjang sebahu,dan raut wajahnya mirip-mirip Dian Sastrowardoyo.Penampilan Erika sangat menarik perhatian pria2 di kantorku,krn dia berpenampilan layaknya mahasiswi di kampus.Ini menjadi angin segar tersendiri untuk kami para pria di kantor.

Suatu hari Erika datang ke ruanganku untuk meminta tanda tanganku.Aku terkejut melihat penampilannya yang sexy sekali.Ia mengenakan kaos hitam lengan pendek yg sangat ketat,rok mini berbahan jeans yg di atas lutut,dan sepasang sandal hak tinggi utk wanita.Aku bisa melihat bentuk payudaranya yg membusung dr balik kaos ketat itu dgn jelas dan juga pahanya yg putih mulus itu bisa kupandangi sepuasku.

Erika masuk ke ruanganku dan menyerahkan beberapa dokumen utk kutandatangani.Saat ia berada di dekatku,sepintas tercium harum semerbak dari tubuhnya yang sedikit2 mulai merangsang penisku.Kulihat Erika agak tegang,jadi kupersilakan ia duduk di depan mejaku.Sambil pura2 baca dokumen,aku mulai sedikit2 bicara dengannya,basa basi layaknya atasan dan bawahan,sambil saling berkenalan.”Kamu kok sering bgt pakai baju itu sih??”,tanyaku pada Erika.Erika jadi tersipu malu mendengar pertanyaanku seraya menjawab,”Habisnya kata temen2 aku keliatan cantik kayak model klo aku pakai baju ini.Memangnya kenapa pak??”.”Ngga apa2 kok,saya juga suka ngeliat kamu berpakaian seperti ini,betul2 cantik kayak model.”,ujarku padanya.”Bapak bisa aja ah,”,tukas Erika sambil tersipu malu.

Kuberanikan diri bertanya lebih jauh padanya,”Erika,kamu udah punya pacar belum??”.”Sudah,pak.”,jawab Erika.Aku agak kecewa mendengarnya,tp aku terus berusaha memancingya untuk bicara ttg seks.”Beruntung sekali orang yg jadi cowo kamu,dia pasti bahagia sekali bisa berhubungan seks dengan cewe sesexy kamu.”,ujarku sambil bercanda.Erika tiba2 terlihat sedih,ternyata dia belum pernah sekalipun berhubungan seks dgn pacarnya dan hal itu membuatnya malu di hadapan teman2nya di kampus yg sudah pernah berhubungan seks dgn pacar masing2 dan pacar Erika juga orangnya sangat alim shg sulit diajak ngesex.Aku hanya menggangguk saja mendengar penuturannya.Terlihat hasrat Erika utk merasakan nikmat duniawi,tetapi pengetahuannya ttg sex juga masih tergolong dangkal.

“Pak,temen2 saya bilang sex itu nikmat.Bener ga sih??”,tanya Erika padaku.Aku sempet terkejut mendengar pertanyaannya,lalu kujawab,”Bener,temen2 kamu itu bener.Sex itu mang nikmat kok,temen2 saya juga bilang begitu.Saya sendiri juga blom pernah nyoba sih”.Erika terlihat makin sedih,menyadari ketidakmampuan dirinya dalam berhubungan seks.Kuhibur ia sejenak,sambil kuajak bercanda dan berkata,”Gimana klo kamu coba ML sama saya skrng disini,nanti saya ajarin teknik2nya deh biar cowo kamu bisa tunduk ama kamu di atas ranjang,bahkan bisa aja cowo kamu yang ketagihan nanti” .

Erika terlihat gelisah,”Gimana nanti klo ketauan/diintip orang2 sini,pak??”,tanyanya padaku.”Tenang,kita seks kilat aja,sekitar 10-15 menitan.”,ujarku.Erika pun menerima tawaranku,dan akupun bersorak kegirangan dalam hati.”Kesempatan bagus nih.”,ujarku dalam hati.Kebetulan setiap ruang untuk direktur dan manajer di kantorku ada toilet pribadi yang terpisah dgn toilet umum.Kutuntun Erika masuk ke dalan toilet pribadi dalam ruanganku,dgn maksud agar suara kami tak terdengar ke luar.

Aku segera mengunci pintu toilet dari dalam,seraya mulai memeluk Erika.Lalu aku duduk di atas kloset dan kusuruh Erika duduk di atas pangkuanku,dgn posisi payudaranya menghadap wajahku.Sejenak kunikmati harum tubuhnya,sambil menjamah2 kaos ketatnya yg hitam legam itu.Lalu aku menyibakkan rok mininya yg terbuat dr jeans itu,shg terlihatlah paha putih mulus dan cd Erika yang berwarna hitam.krn ini seks kilat,maka aku hanya memelorotkan cd Erika sedikit,lalu kuselipkan penisku pada cd Erika,menuju memeknya yang masih berbulu jarang itu.

Tanpa kesulitan,aku berhasil mencapai ‘target’,penisku sudah menancap pd memek Erika.kedua tanganku memegang pinggul Erika dan menggerakkannya ke atas-bawah.nikmat sekali rasanya,dan raut wajah Erika menunjukkan bahwa ia sangat menikmati perhelatan ini,pdhal ini pertama kali untuknya.desahan2 Erika menjadi makin tak terkendali,pertanda dirinya sudah tenggelam dalam nikmat duniawi.sekali2 ia menjambak rambutku dan menekan kepalaku shg wajahku menempel di atas payudaranya,sambil kujilati dan kuhisap payudara yg tertutup kaos ketat itu.kulumat bibir Erika dengan maksud utk meredam suara desahannya.sengaja kulepaskan kedua tanganku dari pinggulnya,dan pinggul Erika sudah bergerak naik turun dgn sendirinya.lama kelamaan pinggul Erika bergerak tak beraturan,seperti ce penyanyi dangdut lagi goyang pinggul.

Kuselipkan kedua tanganku ke dalam kaos ketat Erika,melewati bhnya,dan akhirnya memegang payudaranya tanpa dilapisi apapun.sejuk rasanya sewaktu kupegang payudaranya,sepertinya ia kedinginan dari tadi sewaktu kuajak ngobrol.tak lupa tanganku menjamah bagian2 tubuh Erika yg lain seperti pantat,paha,kaki,dll.kuangkat kaki kiri Erika dgn tanganku sekitar 60 drajat,lalu kujilati pahanya yg mulus.kadang aku kembali melumat bibirnya bila ia mulai mendesah tak karuan.penisku sudah becek sekali krn terus berada dlm memek Erika yg basah itu.

tak terasa 15 menitpun sudah berlalu.kami belum sempat orgasme,tetapi paling tidak bisa merasakan nikmat duniawi dlm sekejap mata.kusadarkan Erika yang sudah larut dlm nikmat duniawi itu.Erika yg tersadar jd tersipu malu krn sadar dirinya sudah seperti wanita murahan saja.kucoba mancabut penisku yg dijepit memek Erika dr tadi,awalnya sulit krn godaan utk terus lanjut,tetapi akhirnya bisa setelah berhasil melemaskan penisku.Erika buru2 mengencangkan celana dalamnya dan aku merapikan celana panjangku,lalu kubantu mengeringkan kaos ketat Erika yg basah krn ludahku tadi.untung saja ludahku yg menempel pada paha Erika sudah kering.

aku pun keluar lebih dulu dr toilet utk mengecek keadaan di luar ruang kantorku.kebetulan banyak karyawan sedang makan siang,jd keadaan relatif aman.”Kapan2 kita lanjutin lagi deh yg tadi,tp di luar kantor.Gimana,seks itu nikmat kan??”,ujarku pada Erika.Erika hanya mengangguk sambil tersenyum malu.Lalu Erika pun segera keluar dr ruanganku dan kembali ke meja kerjanya.sejak kejadian ini,aku dan Erika sering curi2 kesempatan di kantor untuk melakukan seks kilat,mumpung Erika masih magang di kantorku .